FPI Angkat Bicara Soal Dugaan Intimidasi Terhadap Seorang Remaja

Jakarta, Sayangi.com– Juru bicara Front Pembela Islam (FPI) Slamet Maarif angkat bicara terkait tindakan persekusi atau intimidasi terhadap seorang remaja berinisial PMA di Cipinang, Jakarta Timur, yang diduga dilakukan oleh anggota FPI.

“Itu anak menghina ulama terutama Habib Rizieq lewat postingan (di medsos) dan menantang umat Islam. Masyarakat tidak terima dan cari tuh anak untuk dinasihati dan janji untuk tidak mengulangi, anak FPI hadir untuk memastikan tidak ada main hakim sendiri,” kata Slamet, kepada wartawan, Kamis (1/6).

PMA sendiri kini sudah dievakuasi oleh Subdit Jatanras Polda Metro Jaya ke Polda Metro Jaya. Kasubdit Jatanras Polda Metro Jaya AKBP Hendy F Kurniawan mengatakan pihaknya masih menunggu laporan dan akan melakukan penyelidikan soal dugaan adanya intimidasi dalam kasus ini.

“Yang viral di video bahwa korban ini mendapatkan intimidasi dari lebih 10 orang yang mengaku dari ormas FPI. Jadi kita lakukan evakuasi dulu,” kata Kasubdit Jatanras Polda Metro Jaya AKBP Hendy F Kurniawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Kamis (1/6).

Hendy mengatakan, pihak keluarga PMA akan membuat laporan polisi yang kemudian akan ditindaklanjuti oleh pihak kepolisian.

Seperti dikabarkan sebelumnya, kasus tindakan persekusi kembali terjadi, kali ini dialami oleh seorang remaja berusia 15 tahun dengan inisial PMA di Cipinang Muara, Jakarta Timur (Jaktim). Tindakan intimidasi oleh sekelompok orang dari ormas tertentu itu viral di medsos melalui video berdurasi 2 menit 19 detik.

Tindakan persekusi tersebut terjadi ditengarai karena penyataannya di akun Facebook-nya yang bernada sindiran terhadap tokoh pimpinan organisasi masyarakat tertentu. Dalam video tersebut terlihat, sejumlah anggota ormas tertentu menangkap dan mengintrograsi remaja tersebut di sebuah tempat.

Video tersebut juga memperlihatkan tindakan intimidasi verbal maupun pukulan serta tamparan wajah terhadap remaja korban persekusi tersebut. Bahkan ancaman akan dibunuh jika mengulang perbuatan yang sama juga terdengar jelas saat persekusi dilakukan oleh sejumlah kelompok tertentu.

Remaja korban persekusi itu juga terlihat dipaksa untuk menandatangani surat permintaan maaf bermaterai. Surat permohonan maaf itu pun diminta untuk diposting di akun Facebooknya.