Tidak Tegas Usut Kasus Persekusi Jadi Alasan Kapolres Solok Dicopot

Kadiv Humas Polri Irjen Pol Setyo Wasisto

Jakarta, Sayangi.com – Kapolri Jenderal Tito Karnavian mencopot Kapolres Solok Kota AKBP Susmelawati Rosya dari jabatannya. Hal tersebut sekaligus membuktikan statemen Tito yang meminta pihak kepolisian Solok mengusut kasus persekusi terhadap dokter Fiera Lovita Sari oleh oknum Ormas FPI, atau akan dicopot dari jabatannya.

Kadiv Humas Polri Irjen Pol Setyo Wasisto membenarkan, pencopotan Susmelawati karena pihak Polres Solok dirasa tidak sungguh-sungguh dalam menangani kasus persekusi Lovita. Karena menurut Kapolri, lanjut Setyo, persekusi adalah kasus yang harus ditangani secara tegas dan serius.

“Pak Kapolri sudah memberikan statemen, bahwa Kapolres-Kapolres, kepala kesatuan wilayah harus tegas dan berani melawan persekusi. Oleh sebab itu karena kurang ketegasan, makanya diganti,” ujar Setyo di sebuah acara diskusi, di kawasan Cikini, Jakarta, Sabtu (3/6).

Setyo juga menjelaskan Susmelawati dianggap tidak tegas karena menyelesaikan masalah persekusi, hanya dengan surat pernyataan korban. Padahal dampak dari masalah persekusi ini sangat luas.

“Dianggap dia menanggapi masalah ini ditangani tidak tuntas. Karena persekusi ini menimbulkan ketakutan, dampak luar biasa di berbagai daerah-daerah,” jelasnya.

Polisi, kata Setyo, sebagai penegak hukum tidak boleh membiarkan ada tindakan persekusi di wilayahnya masing-masing. Pasalnya, tindakan persekusi telah melanggar Undang-Undang dan Hak Asasi Manusia.

“Orang lain tidak mempunyai kewenangan menghakimi sesama, yang diberi kewenangan adalah aparat penegak hukum,” tegas Setyo.

Lebih jauh Setyo juga membantah statemen yang menyatakan bahwa, tindakan persekusi merupakan upaya masyarakat membantu aparat untuk menegakkan hukum. Bila masyarakat ingin membantu, cukup laporkan orang yang diduga menghina tersebut ke kepolisian.

“Kalau mau membantu, lapor kalau merasa dihina, laporkan. Karena ada freedom of speech, kebebasan menyampaikan pendapat. Harus dilihat dulu, jelas dulu dihina seperti apa,” kata Setyo.