Dokter Kejiwaan: Stop Viralkan Aksi Bugil ODGJ di Tempat Umum

Jakarta, Sayangi.com – Video aksi bugil yang dilakukan oleh Vionina Magdalena (26) yang viral melalui aplikasi pesan dan media sosial telah membuat publik tercengang. Vionina diduga mengalami gangguan kejiwaan. Hal ini menjadi perhatian para dokter ahli kejiwaan. Dr Andri, SpKJ, dari Klinik Psikosomatik RS Omni Alam Sutera mengatakan, merekamnya dan mengunggah video ke internet malah akan memperburuk stigma terhadap orang dengan ganggguan jiwa (ODGJ).

Lebih lanjut Dr. Andri menyarankan, jika bertemu dengan ODGJ sebaiknya membantu dengan memberikan pakaian untuk menutupi tubuhnya.

“Lebih baik diberikan pakaian. Jangan divideokan. Kita berikan pakaian atau penutuplah minimal untuk menutup alat vitalnya. Baru hubungi pihak berwajib untuk cari pertolongan. Fokus utamanya adalah membuat mereka merasa lebih baik dulu, bukan langsung videokan dengan alasan ini seru lalu diviralkan,” ujar Dr. Andri kepada wartawan, Selasa(7/6/2017).

Dr Andri menambahkan, ODGJ yang melakukan aksi bugil berbeda dengan pengidap eksibisionisme. Kendati keduanya sama-sama dikategorikan sebagai gangguan jiwa, alasan bugil di tempat umum jelas sangat berbeda.

ODGJ yang melakukan aksi bugil di tempat umum biasanya tidak menyadari keadaan di sekitarnya. Misalnya pada pengidap skizofrenia, pergi ke luar rumah tanpa busana dilakukan karena penilaian tentang realitanya yang sudah terganggu. Sehingga mereka tidak sadar jika ke luar rumah dalam keadaan bugil atau tanpa busana.

Lain halnya dengan pengidap eksibisionisme yang melakukannya untuk mencari kepuasan. Biasanya pengidap eksibisionisme sengaja melespaskan pakaian atau berjalan bugil di jalanan karena dorongan fantasi seksual.

Kerap kita temui pada beberapa kasus, pelaku eksibisionisme melakukan aksi masturbasi di hadapan publik. Dr Andri menyarankan bersikap biasa saja ketika bertemu dengan pengidap kejiwaan yang satu ini. “Jadi biasa saja sikapnya ketika bertemu eksibisionis. Kalau kita biasa saja, malah membuat dia akan lebih tidak nyaman karena tujuannya tidak berhasil,”

Masalahnya, kata Dr. Andri, “masyarakat di zaman era digital ini justru selalu ingin mengabadikan peristiwa di dekat mereka dengan smartphone, lalu menyebarkannya dengan segera, supaya dianggap orang pertama yang tahu, apalagi jika kejadiannya heboh, kontroversial dan menarik.”