Meriahnya Buka Bersama Kapolri dan Alumni Kelompok Cipayung

Para alumni Kelompok Cipayung menghadiri acara buka puasa bersama Kapolri di rumah dinas Kapolri, Jalan Pattimura Kebayoran Baru Jakarta Selatan, Rabu (7/6/2017).

Jakarta, Sayangi.Com – Kapolri Jenderal Pol. Tito Karnavian Rabu (7/6) sore menggelar buka puasa bersama alumni Kelompok Cipayung di rumah dinas Kapolri, Jalan Pattimura Kebayoran, Jakarta Selatan.

Acara yang dimulai sekitar pukul 17.00 WIB ini berlangsung meriah dan dihadiri sekitar 100 tokoh yang merupakan alumni dari 5 organisasi kemahasiswaan yang tergabung dalam Kelompok Cipayung, yakni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).

Dari alumni HMI hadir antara lain Ir. Akbar Tandjung, mantan Ketua Umum PBR Bursah Zanubi, mantan Gubernur Aceh Abdullah Puteh, Prof. Dr. Burhan D. Magenda, anggota Komisi X DPR Ridwan Hisyam, Bupati Lahat Syaifuddin Aswari Rifai, dan Sujana Sulaeman.

Dari alumni GMNI hadir Ahmad Basarah selaku Ketua Persatuan Alumni GMNI,  Eros Djarot, Riad Oscha Chalik, Bob Randilawe, Karyono, dan Wakil Bupati Bandung Barat Yayat T. Soemitra. Dari alumni PMII hadir anggota DPD RI Achmad Muqowam selaku Ketua Ikatan Alumni PMII, dan Bupati Lampung Timur Chusnunia Chalim.  Juga hadir Hermawi Fransiskus Taslim selaku ketua Forum Komunikasi Alumni PMKRI, dan Bernard Nainggolan selaku Ketua Pengurus Nasional Perkumpulan Senior GMKI.

Dari jajaran Mabes Polri yang hadir dalam acara ini, antara lain Asrena Polri Irjen Pol. Bambang Sunarwibowo, Wakabaintel Polri Brigjen Lucky Hermawan, dan Korspri Kapolri Kombes Pol. Rachmad.

Miniatur Indonesia

Bursah Zarnubi selaku inisiator acara buka puasa bersama ini, dalam sambutannya menjelaskan, Kelompok Cipayung bisa disebut sebagai miniatur Indonesia karena anggotanya dari berbagai latar belakang agama, suku, dan daerah. Sejak mahasiswa, pimpinan Kelompok Cipayung sering membuat statement kritis terhadap Pemerintah dan jalannya pembangunan, namun tetap dalam kerangka Pancasila, UUD 45, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.

Para alumni Kelompok Cipayung, kata Bursah, wawasan kebangsaannya sudah teruji sejak menjadi mahasiswa. Mereka kemudian aktif di KNPI, Parpol, organisasi bisnis seperti HIPMI dan KADIN, DPR, atau Pemerintahan, menjadi benteng NKRI dan berkontribusi terhadap upaya memajukan bangsa sesuai dengan spirit kelahiran Kelompok Cipayung yang memuat visi Indonesia Yang Kita Cita-Citakan. Yakni Indonesia yang adil dan makmur, modern, punya wibawa hukum, demokratis, dan berperan dalam pergaulan internasional.

“Jadi pertemuan ini penting, dalam rangka merajut silaturahim dan memperteguh komitmen kebangsaan diantara para tokoh yang berasal dari berbagai latar belakang,” kata Bursah.

Ir. Akbar Tandjung selaku satu-satunya penandatangan Kesepakatan Cipayung yang masih hidup, menjelaskan latar belakang kelahiran kelompok ini. Menurutnya, kelahiran Kelompok Cipayung dilatarbelakangi keinginan untuk menyamakan visi pergerakan mahasiswa setelah KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) sebagai sentral perjuangan mahasiswa melawan PKI bubar pada 1968. Keinginan Pemerintah pada tahun 1970 untuk membentuk National Union of Students (NUS) juga gagal akibat kuatnya perbedaan kepentingan di kalangan mahasiswa.

“Maka pada 22 Januari 1972, pimpinan organisasi mahasiswa membuat Kesepakatan Cipayung yang antara lain memuat konsepsi tentang Indonesia yang Kita Cita-citakan. Kelahiran Kelompok Cipayung kemudian menginspirasi lahirnya pembentukan KNPI sebagai wadah berhimpun pemuda secara nasional,” kata Akbar.

Akbar mengatakan, sore ini ia sebetulnya mendapat undangan acara berbuka puasa di beberapa tempat. Tapi karena merasa terikat dengan Kelompok Cipayung, Akbar mendahulukan hadir di acara ini dan setelah berbuka puasa langsung pamit. Akbar juga mengapresiasi kesediaan Kapolri Tito Karnavian untuk menjadi tuan rumah pertemuan ini.

Ahmad Basarah yang didaulat menyampaikan sambutan, hanya bicara singkat karena menurutnya sudah terwakili dengan apa yang disampaikan oleh Bursah dan Akbar Tandjung. Ia hanya menyampaikan kutipan Pidato Bung Karno bahwa Pancasila dan persatuan nasional bukanlah sesuatu yang taken for granted (terjadi begitu saja). Itu adalah hasil perumusan yang diperjuangkan dan harus terus dirawat.

Pertemuan bulanan

Kapolri Tito Karnavian dalam sambutannya mengaku bersyukur bisa bertemu dan berkenalan dengan para alumni kelompok Cipayung yang sudah banyak berkontribusi terhadap kemajuan bangsa. Dari alumni Kelompok Cipayung, menurutnya, ia bisa belajar lebih dalam soal peta dan dinamika politik nasional.

“Saya gak pernah belajar politik. Dari kelompok Cipayung inilah saya belajar politik, terutama dari Pak Bursah,” ujar Tito, disambut tawa hadirin.

Tito yang tampak riang dan banyak menyampaikan gurauan, berharap pertemuan seperti ini bisa terus berlanjut, kalau perlu digelar sebulan sekali.

“Kelompok Cipayung dan para alumninya adalah mitra strategis dalam menjaga dan memajukan bangsa,” kata Tito.

Usai buka puasa bersama dan Shalat Magrib berjamaah, acara dilanjutkan dengan ramah tamah.