Posisi Perdana Menteri Theresa May Dalam Ketidakpastian

Perdana Menteri Theresa May dan Rivalnya Jeremy Corbyn (Partai Buruh) dalam Pemilu Kamis 8/6
Perdana Menteri Theresa May dan Rivalnya Jeremy Corbyn (Partai Buruh) dalam Pemilu Kamis 8/6

London,Sayangi.com-Perdana Menteri Theresa May menghadapi seruan untuk berhenti pada Jumat (9/6), setelah pertaruhan pemilihan umum yang dia gelar Kamis (8/6) untuk memenangkan mandat yang lebih kuat menjadi bumeran. Kondis tersebut membuat suhu politik Inggris kacau serta berpotensi menunda dimulainya perundingan Brexit.

Dengan tidak adanya pemenang jelas dari pemungutan suara Kamis, May berjanji menghadirkan stabilitas. Sementara saingannya dari Partai Buruh, Jeremy Corbyn, mengatakan May harus mengundurkan diri.

Prediksi terbaru BBC menyebutkan Partai Konservatif May akan memenangkan 318 dari 650 kursi House of Commons, kurang delapan dari mayoritas. Sementara oposisi sayap kiri Partai Buruh akan memperoleh 267 – menghasilkan sebuah “parlemen menggantung” dimana tidak ada partai yang menduduki mayoritas kursi dalam parlemen. Kondisi ini dan potensi jalan buntu. Sky News juga memperkirakan May kehilangan mayoritasnya dengan memperoleh antara 315 hingga 325 kursi.

Craig Erlam, analis dari perusahaan pialang Oanda di London berpendapat “Parlemen yang menggantung adalah hasil terburuk dari perspektif pasar karena ini menciptakan lapisan ketidakpastian menjelang perundingan Brexit dan memecah apa yang sudah pendek batas waktunya untuk mengamankan kesepakatan untuk Inggris,”

Di tengah kerumitan pembicaraan mengenai hengkangnya Inggris dari Uni Eropa yang dijadwalkan mulai hanya dalam 10 hari, dan adanya ketidakpastian mengenai siapa yang akan membentuk pemerintahan berikutnya dan memberikan arahan fundamental terkait Brexit.

“Pada saat ini, lebih dari apa pun negara ini memerlukan periode stabilitas,” kata May yang berwajah muram setelah memenangkan kursi parlemennya di Maidenhead, tenggara Inggris.

“Jika … Partai Konservatif telah memenangkan kursi paling banyak dan mungkin suara paling banyak, maka akan menjadi kewajiban kita untuk memastikan bahwa kita memiliki periode stabilitas dan itulah yang akan kita lakukan,” katanya sebagaimana dikutip kantor berita Reuters.

Sementara Corbyn, setelah memenangi kursi di London utara, mengatakan usaha May untuk memenangkan mandat yang lebih besar telah menjadi bumerang.

“Mandat yang dia dapatkan hilang dari kursi Konservatif, kehilangan suara, kehilangan dukungan dan kehilangan kepercayaan diri,” ujar Corbyn.

“Saya akan berpikir bahwa cukup bagi dia untuk pergi, sebenarnya, dan memberi jalan bagi pemerintahan yang akan benar-benar mewakili semua orang di negara ini,” ujarnya.

Alih-alih, dia mengambil risiko keluar dengan aib setelah hanya 11 bulan di No.10 Downing Street, yang akan menjadi masa jabatan tersingkat bagi perdana menteri di negara itu dalam hampir satu abad.

Secara mengejutkan tujuh minggu lalu May, meminta penyelenggaraan pemilihan umum yang lebih awal dari seharusnya. Ini karena dia yakin, langkah ini mampu meningkatkan suara mayoritas keluarnya Inggris dari perundingan BREXIT yang dia warisi dari pendahulunya David Cameron.

Sumber: .independent.co.uk