Tandatangani RUU Terbaru Trump Membuat Rusia Berang

Perdana Menteri Rusia Dmitry Medvede. Foto Macedoniaonline
Perdana Menteri Rusia Dmitry Medvede. Foto Macedoniaonline

Washington DC, Sayangi.com– Presiden Trump sudah menendatangi Rancangan Undang Undang terkait legislasi legislasi sanksi baru Rusia.

Perdana Menteri Rusia Dmitry Medvedev menyebutnya tanda tangan diatas sebagai pernyataan perang ekonomi terang-terangan kepada Moskow. Dikutip dari telegraph (4/8) Menlu Rusia ini menyebut Amerika Serikat telah menghancurkan harapan untuk membaiknya hubungan kedua negara.

Dmitry juga menyebut Donald Trump pemimpin yang lemah sekali dalam skala yang sangat mengecewakan.

Sementara itu dari AS dikabarkan Trump secara ogah-ogahan menandatangani undang-undang baru ini. Undang undang tersebut telah ditandatangani Trump Rabu (3/5) waktu setempat.

Trump tunduk kepada tekanan di dalam negeri setelah Gedung Putih gagal menghentikan atau menggagalkan RUU ini.

RUU yang ditanda tangani TRump salah satu butirnya  ditujukan untuk menghukum Moskow karena mencampuri pemilihan presiden AS tahun 2016, sebagai upaya upaya untuk membantu Trump menang. Kesimpulan tersebut telah dibuat dan diinvestigasi oleh badan intelijen Amerika Serikat.

RUU yang baru ditanda tangani Presiden AS ini juga  menghukum Rusia karena agresi militernya di Ukraina dan Suriah, dan menjatuhkan sanksi finansial lebih lanjut terhadap Iran dan Korea Utara.

Butir lain dalam RUU terbaru adalah,  AS  memberi batasan baru terhadap perusahaan-perusahaan Rusia di AS terutama di sektor energi . Perusahaan AS juga akan dilarang terlibat dalam proyek eksplorasi energi di mana perusahaan Rusia memiliki lebih dari sepertiga saham.

Medvedev mengingatkan bahwa langkah AS itu akan mendatangkan konsekuensi-konsekuensi. Dia pun menambahkan  “langkah tersebut mengakhiri harapan bagi membaiknya hubungan kami dengan pemerintahan baru AS.”

“Yang kedua, langkah itu adalah pernyataan perang ekonomi terang-terangan kepada Rusia,” kata Medvedev dalam laman Facebook-nya.

Seraya mengejek Trump sebagai presiden yang mudah naik darah, Medvedev juga menuliskan, “Pemerintahan Trump telah menunjukkan kelemahan totalnya dalam menjalankan kekuasaan eksekutif di hadapan Kongres dalam cara yang amat melukai.

Terkait kebijakan AS yang baru kepada Kremlin, Uni Eropa mengatakan sanksi tersebut mungkin akan berdampak pada keamanan energinya. Jean-Claude Juncker, presiden Komisi Eropa, mengatakan bahwa Eropa akan mengambil tindakan balasan jika sanksi AS melukai perusahaannya yang terlibat dalam proyek minyak dan gas dengan Rusia.

Dia berkata: “Kami siap. Kita harus mempertahankan kepentingan ekonomi kita berhadapan dengan Amerika Serikat, dan kita akan melakukannya. ”

Ditempat terpisah Mike Pence, wakil presiden AS, mengecam Rusia karena mencoba “membuat kestabilan” Balkan Barat dan “membuat bayangan dari Timur”.

Pada kunjungan ke Montenegro, anggota terbaru NATO, Pence menyebutkan “Presiden dan kongres kami bersatu dalam pesan kami ke Rusia. Hubungan yang lebih baik, pencabutan sanksi, akan mengharuskan Rusia membalikkan tindakan yang menyebabkan sanksi diberlakukan