Mengenal Obat Piskotropika Yang Rentan Disalahgunakan

Foto ABC Radio Australia
Foto ABC Radio Australia

Jakarta,Sayangi.com-Kasus kepemilikan Dumolid oleh selebritis papan atas Tora Sudiro mengangkat kembali aturan psikotropika ke mata publik.

Psikotropika adalah obat kimia yang dapat bekerja pada sistem saraf pusat yang dapat mengubah fungsi otak seperti mempengaruhi suasana hati, kesadaran, persepsi, atau prilaku seseorang, dan efek ini bersifat sementara.

Seharusnya penggunaan obat psikotropika tidaklah seperti obat warung. Hal ini diatur dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika.

Pengawasan dokter sangat diperlukan untuk mengonsumsi obat tersebut. Tanpanya, penggunaan psikotropika atas dasar apapun dapat dianggap sebagai penyalahgunaan obat.

Dilansir dari Elite Day (6/8) Berikut beberapa jenis obat psikotropika yang jamak digunakan sehingga berpotensi tinggi disalahgunakan, antara lain

1. Obat antipsikotik
Obat antipsikotik dipercaya memblokir reseptor dopamin di otak yang dianggap terlalu aktif pada pasien psikosis yang menunjukkan gejala delusi dan halusinasi.

Tetapi obat antipsikotik dapat menyebabkan tremor, kejang otot, dan kegelisahan. Efek samping lainnya adalah tardive dyskinesia, gerakan tak terkendali pada lidah, bibir, mulut, lengan, dan kaki secara permanen.

Sifat Obat ini seringkali menyebabkan kenaikan berat badan yang signifikan dan dapat meningkatkan risiko diabetes karena jenis tablet ini mempengaruhi metabolisme seseorang.

2. Obat ADHD
ADHD (Attension Deficit Hyperactivity Disorder) merupakan salah satu gangguan yang paling lazim ditemui pada anak. Gejala dari gangguan ini termasuk peningkatan aktivitas motorik yang cenderung berlebihan, emosi yang meluap, hingga kesulitan mengendalikan perilaku.

Untuk pengobatan ADHD, obat yang paling sering digunakan berjenis stimulan yang meningkatkan dopamin, zat terkait dengan kesenangan, gerakan, dan perhatian.

Efek samping dari penggunaan jangka lama obat iniadalah gangguan tidur dan penurunan nafsu makan.

3. Obat anti-ansietas
Obat Anti-ansietas digunakan pada pasien yang memiliki kecemasan abnormal. Lima tipe gangguan kecemasan antara lain: gangguan obsesif-kompulsif (OCD), serangan panik yang berulang dan tak terduga (panic disorder), fobia sosial, dan gangguan stres pasca trauma

Selain antidepresan, obat penghilang kecemasan seperti Benzodiazepin sering digunakan kepada pasien pengidap gangguan kecemasan. Akan tetapi, antidepresan dan benzo harus diberikan dalam jangka waktu yang singkat karena memiliki risiko keteragantungan.

Efek samping lain dari Benzo adalah rasa kantuk, penglihatan kabur, dan gangguan tidur seperti mimpi buruk.gangguan psikologis.

4. Penstabil suasana hati
Obat penstabil suasana hati sering digunakan untuk pengidap bipolar. Pada pasien bipolar, perubahan suasana hatinya terjadi begitu cepat. Di satu sisi sangat tinggi dan terkadang sangat rendah.

Obat ini lebih sering dikenal dengan istilah LSD (Lysergyc Acid Diethylamide). Obat penstabil suasana hati merupakan narkotika sintetis yang dibuat dari sari jamur kering yang tumbuh di rumput gandum dan biji-bijian.

Asam lysergic dari jamur (ergot) inilah yang kemudian diolah menjadi LSD. Orang yang berada di bawah pengaruh LSD akan lebih mudah dilihat dari perubahaan perasaan dan suasana hati yang drastis dibanding tanda-tanda fisik.

Pengguna mungkin akan merasakan perubahan emosi yang berbeda sekaligus atau mengalami mood swing yang sangat cepat. Penyalah gunaan jenis obat ini menyebabkan pemakai akan timbul gangguan persepsi, halusinasi berkelanjutan yang disebut Hallucinogen-Induces Persisting Perceptual Disorder (HPPD)

Efek samping lain yang ditimbulkan dari obat penstabil suasana hati meliputi pikiran untuk bunuh diri, gangguan pada tiroid, serta penambahan berat badan.

5. Obat antidepresan
Obat Antidepresan diberikan oleh dokter kepada pasien yang sedang mengalami gejala gangguan depresi mayor. Diperkirakan, sekitar 7-8 persen populasi di dunia ini mengidap depresi.

Mayoritas antidepresan yang dapat ditemukan di pasaran termasuk golong SSRI yang secara spesifik menarget kadar seronin di otak.

Akan tetapi, antidepresan bukan tanpa efek samping. Badan Pengawasan Obat dan Makanan (FDA) Amerika Serikat memberikan peringatan paling keras bagi obat antidepresan golongan SSRI karena dapat meningkatkan risiko keinginan yang tinggi untuk bunuh diri pada anak, remaja, dan dewasa awal.

Efek samping lainnya dari antidepresan adalah gangguan tidur, perubahan nafsu makan, dan disfungsi seksual serta gangguan psikologis lainnya.

Berbagai Sumber.