Menteri Agama: Pendidikan Karakter tidak Ada Sekolahnya

Menteri Agama Lukman Hakim

Yogyakarta, Sayangi.com – Menteri Agama Republik Indonesia Lukman Hakim Saifuddin menekankan kembali pentingnya pendidikan karakter. Hanya saja kata dia, pendidikan karakter murni harus diawali dari keluarga, terutama melalui keteladanan yang dicontohkan dari lingkungan keluarga.

“Pendidikan karakter itu tidak ada sekolahnya. Sekolah pendidikan karakter itu lewat teladan, dan teladan ada dalam keluarga,” kata Lukman saat menggelar “Media Gathering and Lunch Talk” di Rama Garden, Yogyakarta, Selasa 8 Agustus 2017.

“Media Gathering and Lunch Talk” ini dilakukan pada hari kedua dalam rangkaian pelaksanaan Ajang Kreasi Seni dan Olahraga Madrasah (Aksioma) dan Kompetisi Sains Madrasah (KSM) 2017 yang digelar Direktorat Pendidikan Islam Kementerian Agama RI. Dalam acara ini selain menghadirkan wartawan, juga dihadiri istri Menteri Agama Trisna Willy Lukman Hakim Saifuddin dan seluruh Kepala Kanwil Agama seluruh Indonesia.

Namun begitu, bukan berarti sekolah tidak memiliki peran dalam membentuk pendidikan karakter. Sekolah kata dia, harus terus mendukung dan mensupport agar karakter anak semakin terbentuk.

“Jadi, dalam pendidikan karakter ini, kita perlu menyatukan pendidikan keluarga dan sekolah,” jelasnya.

Menurut Lukman, pendidikan karakter ini sangat penting. Sebab, setiap individu dituntut untuk memiliki jiwa sosial yang tinggi.

“Pendidikan karakter ruang lingkupnya luas sekali. Ukurannya-ukurannya merujuk pada nilai agama. Karakter itu ditunjukkan dengan berbagai perilaku, tindak tanduk yang muncul dari diri seseorang, yang kesemuanya dilakukan untuk orang lain,” kata Lukman

Oleh karenanya kata dia, tidak ada pilihan lain yang perlu menjadi titik tekan dalam pendidikan karakter adalah keteladanan, terutama dalam menjalin hubungan dengan sosialnya.

“Pendidikan karakter bisa ditunjukkan bagaimana anak bisa lebih memerhatikan orang lain, bukan hanya mementingkan diri sendiri,” jelasnya.

Menurutnya, jika anak-anak kita sudah lebih mementingkan kepentingan diri sendiri dan mengabaikan kepentingan orang lain, akan berdampak sangat buruk tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi bangsa dan negara.

“Pendidikan karakter ini lebih relevan ditekankan dalam kehidupan kita cenderung lebih individual akhir-akhir ini. Kalau semua orang mementigkan diri sendiri, masyarakat akan rusak.”

Ajang Aksioma dan KSM sendiri disebut sebagai ajang strategis untuk mengembangkan bakat, kompetensi, dan prestasi anak muda serta menumbuhkembangkan karakter unggul, yang sekaligus menjadi tema kegiatan ini, yaitu Integritas, Sportivitas, Intelektualitas.

Oleh karenanya, selain prestasi dalam meraih kejuaraan, yang sangat diharapkan dalam ajang ini adalah tumbuhnya karakter kejujuran, sportivitas, dan kedewasaan dalam bertanding.