Dalami Kasus Sabu Satu Ton, Penyidik Akan Lakukan Pemeriksaan di Taiwan

Barang bukti satu ton sabu yang diamankan polisi

Jakarta, Sayangi.com – Kepolisian Indonesia bekerjasama dengan kepolisian Taiwan dalam pengungkapan penyelundupan sabu satu ton sabu di kawasan Anyer, Banten beberapa waktu lalu. Selain itu, pihak Polri juga dan kepolisian Taiwan juga saling memberikan informasi terkait siapa pengendali penyelundupan sabu tersebut.

Alhasil, tiga orang yang berperan sebagai pengendali penyelundupan sabu satu ton tersebut ditangkap pihak kepolisian Taiwan. Menurut Dires Narkoba Polda Metro Jaya Kombes Pol Nico Afinta, ketiga pelaku pengendali penyelundupan yang berhasil ditangkap berinisial AB, AP alias Aping, dan AP alias Apau.

“Setelah kita periksa lima orang tersangka ABK dan tiga orang tersangka penjemput barang. Lalu kami berikan info kepada Kepolisian Taiwan (mengenai pengendali penyelundupan). Akhirnya kepolisian Taiwan informasikan ke kami bahwa sudah ditangkap,” ujar Nico di Mapolda Metro Jaya, Rabu (9/8).

Nico menambahkan, dua orang pengendali tersebut berada di Malaysia saat proses penyelundupan berlangsung. Untuk satu orang pelaku lainnya, Nico mengaku dirinya belum dapat memastikan apa perannya.

“Dalam waktu dekat kita akan mengirim penyidik ke Taiwan guna melakukan pemeriksaan terhadap ketiga pengendali tersebut,” tuturnya.

Hal ini, menurut Nico, penting dilakukan, agar penyidik dapat mengetahui modus-modus penyelundupan narkoba. Terutama yang berasal dari jaringan internasional untuk masuk ke Indonesia.

“Untuk mengetahui bagaimana cara mereka menunjuk kapten kapal, lalu mengambil barang di Myanmar, lalu mengantar barangnya untuk siapa. Pengendali yang jelas sudah tertangkap, jadi kemungkinan kita bisa membuka jaringan yang lebih luas lagi,” kata Nico.

Lebih jauh Nico berharap tersangka penyelundupan sabu satu ton yang telah ditangkap polisi dapat dikenakan hukuman mati. Hal ini mengingat barang bukti yang disita dari tangan tersangka berjumlah sangat besar.

“Kami berharap dapat dituntut hukuman mati dan divonis hukuman mati. Ini jumlahnya luar biasa, yang 100 hingga 200 kilogram saja sudah ada yang pernah dihukum mati, ini di atasnya kok tidak,” pungkasnya.