Kisah Maksum Penarik Becak dan Marbut Mulyono Menabung 20 Tahun Untuk Berhaji

Menag Lukman Hakim berbincang dengan Maksum di kamar hotelnya di Mekkah, Kamis (24/8) /Foto: kemenag.go.id

Mekkah, Sayangi.Com– Setiap musim haji, selalu ada cerita yang menggetarkan hati dari orang-orang yang punya tekad besar untuk bisa melaksanakan ibadah haji ke Tanah Suci.

Cerita kali ini tentang Maksum Sapii Bunet bin Wahab, penarik becak yang biasa mangkal di Pasar Atom Surabaya, dan Marbut Masjid Al Munawwar Tulunggagung bernama Mulyono, yang sama-sama menabung selama 20 tahun untuk bisa mendaftar sebagai calon haji. Keduanya kini berada di Mekkah untuk menunaikan ibadah haji yang sudah lama mereka cita-citakan.

Kamis (24/8) pagi kemarin, Maksum dan Mulyono yang menempati kamar 605 dan 601 sebuah hotel di kawasan Syisyah, di Kota Mekkah, dikunjungi oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin selaku amirul haj Indonesia.

Dengan berjalan kaki dari Kantor Daker Mekkah, Lukman Hakim Saifuddin terlebih dahulu menemui Maksum yang sedang duduk di kamarnya.

“Assalamu’alaikum,” kata Lukman, disambut Maksum dengan ucapan wa’alaikum salam.

Keduanya lalu berbincang ringan seputar haji. Kepada amirul haj, kakek 79 tahun asal Madura itu bertutur tentang usahanya menabung hingga 20 tahun untuk bisa mendaftar haji.

Sebagai tukang becak, jelas pendapatannya tidak tentu, kadang ada sisa, seringkali pas-pasan. Namun, Maksum mengaku menyisihkan yang sedikit itu untuk biaya ibadah haji ke tanah suci. Kalau sudah terkumpul Rp300 ribu atau Rp500 ribu ia menabungkan uangnya ke Simpedes, sampai akhirnya ia bisa mendaftar sebagai calon haji pada tahun 2010 lalu..

“Saya dulu ngaji arkanul iman (rukun iman). Satu, harus percaya kepada Allah, baik dan buruknya takdir Allah. Kedua, saya meyakini ayat dalam Surat Yasin, Innama amruhu idza arada syaian an yaquula lahu kun fayakun. Kalau Allah menghendaki, tidak ada yang bisa menghalangi. Saya percaya itu,” kata Maksum.

Maksum tergabung dalam kloter 6 Embarkasi Surabaya (SUB 06), dia kini sedang menunggu puncak pelaksanaan haji, wukuf di Arafah pada 31 Agustus mendatang. Satu kekhawatiran yang dia sampaikan kepada Menag Lukman adalah: ia tidak bisa menjadi pribadi yang lebih baik setelah pulang ke Tanah Air.

“Saya takut kalau sebelum haji berusaha baik misalnya sembahyang, lalu setelah pulang ke Indonesia malah tidak lebih baik. Itu yang suka saya pikirkan, Pak,” katanya.

Mulyono (kanan) saat ditemui Menag Lukman Hakim Saifuddin, Kamis (24/8)

Marbut Mulyono

Dari kamar Maksun, Menag Lukman Hakim lalu menemui Mulyono di kamar 601. Mulyono adalah seorang marbut masjid yang kini berusia 75 tahun, dan telah mengabdi di Masjid Al Munawwar Tulungagung selama puluhan tahun. Seperti halnya Maksum, ia kini tengah menanti puncak ibadah haji, wukuf di Arafah.

“Kesibukan sehari-hari saya adalah marbut, tukang ngepel dan bersih-bersih masjid. Ini sudah berjalan 30 tahun,” cerita Mulyono kepada Lukman Hakim.

Mulyono bercerita, biaya hajinya diperoleh dari pemberian jamaah dan tamu yang dia kumpulkan sedikit demi sedikit, ditabung dalam kurun sekitar 20 tahun. Pada tahun 2011, dia baru bisa mendaftarkan diri sebagai calon haji.

“Sepulang berhaji, saya akan ke masjid lagi. Saya senang saat pertama kali melihat Ka’bah. Tapi cukup capek juga saat Tawaf dan Sai,” ujarnya.

Menteri Agama Lukman Hakim mengaku beryukur bisa bertemu dengan Maksun dan Mulyono. Menurutnya, keduanya adalah contoh bagaimana tekad dan usaha yang kuat bisa mengantarkan seseorang mencapai mimpi dan cita-citanya.

“Ini bukti, meski dalam kondisi seperti ini, dengan tekad besar akhirnya mereka mampu mewujudkan keinginan untuk berhaji. Teladan yang baik,” kata Lukman.

Ibadah Haji memang hanya diwajibkan bagi mereka yang mampu. Tapi kemampuan tidak selalu identik dengan kekayaan materi. Banyak orang yang mampu secara material, belum terpanggil untuk berhaji.

Sumber: Kemenag.go.id