Zainudin Amali: Penyebar Hoax Saracen Sudah Melewati Batas Kebebasan Berpendapat

Ketua Komisi II DPR Zainudin Amali

Jakarta, Sayangi.Com– Ketua Komisi II DPR, Zainudin Amali, menyatakan apa yang dilakukan Saracen menyebarkan berita bohong di media sosial sudah melewati batas kebebasan berpendapat. Apa yang dilakukan Saracen bukan cuma memfitnah, tapi sudah mengadu domba.

Ia mengapresiasi langkah kepolisian yang telah mengungkap kasus ini dan menangkap para pengelola sindikat penyebar hoax dan fitnah di media sosial itu.

“Saat ini motifnya adalah persaingan politik, dimanfaatkan dan dibayar sebar isu SARA dan membunuh karakter lawan politik. Tapi kalau dibiarkan, ini bisa meluas kemana-mana, ke ranah bisnis dan sosial. Pokoknya sewa, tolong kamu jelekin saingan saya. Ini bahaya,” kata Zainudin Amali, saat dihubungi Sayangi.Com, Minggu (27/8).

Seperti diberitakan sbelumnya, polisi berhasil mengungkap dan telah menangkap tiga orang pengelola sindikat penyebar berita hoax di media sosial, Saracen, yang diindikasi menyebarkan isu SARA saat pilkada berdasarkan order. Ini diketahui lewat jejak forensik di grup Saracen.

“Masih perlu pendalaman, jejak forensiknya ada. Banyak data yang tersebar di sana. Bahkan ada pemeriksaan hard disk yang disita,” kata Kabag Mitra Humas Polri Kombes Awi Setiyono di Mabes Polri, Kamis (24/8).

Konten Hoax Ganggu Pemilu

Zainudin Amali mengakui, pemerintah khususnya Bawaslu (Badan Pengawas Pemilu) saat ini masih kesulitan menangkal konten hoax yang mengganggu pelaksanaan Pemilu atau Pemilukada.

Menurutnya, saat pembahasan Peraturan Bawaslu beberapa waktu lalu, masalah ini juga sempat dibicarakan. Antara lain dibahas bahwa lembaga survei harus mendaftar dan bergabung pada asosiasi sehingga tidak terulang kasus-kasus seperti Pemilu tahun 2014.

Demikian juga dengan potensi kampanye hitam saat pelaksanaan pemilu atau pemilukada.

“Soal itu diatur di peraturan Bawaslu, kalau ada bukti kuat, maka tim kampanye yang melakukan praktek kampanye hitam bisa terkena pasal pidana pemilu,” ujarnya.

Apakah bisa berpengaruh terhadap pasangan calon? Menurut Zainudin, Bawaslu harus mempertajam masalah ini, jika black campaign atau kampanye hitam itu dilakukan secara terstruktur, sistematis, dan masif (TSM) tidak tertutup kemungkinan bisa berpengaruh terhadap pasangan calonnya.