Kapolri di Depan Pemuda OKI: Nama Islam Tercoreng Aksi Radikalisme dan Terorisme 

Kapolri saat silaturahmi dengan OIC Youth di Jakarta, Selasa (10/10) malam /Foto: tri setyo

Jakarta, Sayangi.com– Kapolri Jenderal Pol Muhammad Tito Karnavian menerima kunjungan delegasi Organization Of Islamic Cooperation Youth (OIC Youth) atau Pemuda Organisasi Kerjasama Islam (dahulu Organisasi Konferensi Islam/OKI), Selasa (10/10) malam, di rumah dinas Kapolri di Kawasan Kebayoran Baru, Jakarta.

Di depan delegasi pemuda OKI, Tito menyampaikan pidato berbahasa Inggris tanpa teks selama kurang lebih dua jam tentang bahaya terorisme dan radikalisme.

Menurut Kapolri, saat ini nama Islam menjadi tercemar di mata dunia internasional karena ada beberapa kelompok yang mengatasnamakan Islam, namun melakukan aksi terorisme dan radikalisme.

“ISIS salah satu contoh dari ideologi radikalisme dan itu sebuah ancaman besar,” kata Tito.

Dalam pergerakannya, kata Tito, ISIS menggunakan prinsip jihad Quthbia yang diambil dari pemikiran seorang ulama asal Mesir bernama Sayyid Quthb.

Ideologi yang menjadi dasar aksi terorisme dan radikalisme di Indonesia, kata Kapolri, secara umum dikelompokkan dalam dua paham, yakni paham Salafi Jihadism dan Takfiri.

“Kekerasan atas nama jihad sangat berbeda dari arti jihad sebenarnya. Definisi jihad yang kurang tepat inilah yang saat ini digunakan masyarakat indonesia, dan mereka sering kali mengartikan menjadi salafi jihad,” ujar Tito.

Menurut Tito, di pikiran para radikalis, jihad merupakan pilar ke enam yang harus dijalankan. Pasalnya, dalam paham radikal, bila seseorang tidak melakukan jihad, maka ia akan masuk neraka.

“Karena jihad mereka jadikan bagian dari rukun iman, maka wajib untuk dijalankan. Dengan melakukan jihad langsung masuk surga, jika tidak akan masuk neraka,” katanya.

Kapolri juga mengingatkan, bahwa apa yang diajarkan ISIS sangat bertentangan dengan ajaran Islam yang Rahmatan Lil Alamin. Karena dalam ajaran ISIS, terdapat ajaran penghalalan darah bagi suatu orang atau kelompok, yang berbeda paham dengan mereka.

“ISIS ini lebih ekstrim lagi dari Salafi Jihadist. Misalnya menghancurkan Ka’bah itu halal bagi mereka,” tuturnya.

ISIS, lanjut Tito, juga berafiliasi ke negara-negara lain seperti di Filipina dengan kelompok Abu Sayyafnya. Sedangkan di Indonesia, kelompok teroris yang berafiliasi dengan ISIS adalah Jamaah Anshorut Daulah (JAD).

Mantan Kapolda Metro Jaya ini juga mengingatkan, ISIS dengan segala ajarannya secara perlahan telah merasuk ke para penganut paham radikalisme di Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari serangkaian aksi teror terhadap sesama Muslim di Indonesia.

“Di Indonesia, ISIS ini juga sudah berakar, contoh di Cirebon ada pelaku bom bunuh diri di Masjid saat Sholat Jumat. Padahal ini bukanlah ajaran islam,” tegas Tito.

Kuasai Ekonomi Global

Dalam kesempatan itu Tito juga mengingatkan, pemuda, khususnya pemuda Islam harus dapat menguasai perekonomian global. Pasalnya, saat ini negara-negara di dunia tidak lagi menginvasi negara lainnya dengan menggunakan kekuatan militer saja.

“Kompetisi yang kita hadapi saat ini bukan lagi instrumen militer, tetapi instrumen ekonomi yang sangat mendominasi keberadaan instrumen lainnya, juga mendominasi dunia Islam,” kata Tito.

Indonesia, kata Tito, memiliki berbagai syarat dasar untuk menjadi kekuatan ekonomi nomor empat di dunia.

“Kita punya wilayah yang luas, sumber daya manusia yang banyak, dan punya sumber daya alam yang melimpah. Masalahnya bagaimana kita menjaga stabilitas poltik dan ekonomi, itu tugas besar dari bangsa ini,” ujarnya.

Menurut Tito, jika pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat stabil diatas 5 persen per tahun, Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi yang diperhitungkan secara global. Bila ini terjadi, bukan hanya masyarakat Indonesia yang bangga, tapi juga seluruh umat Islam di dunia.

“Di antara keempat negara yang jadi kekuatan ekonomi terbesar, Indonesia adalah negara dengan mayoritas umat Islam. Mari kita bergandengan tangan antar pemuda Muslim di seluruh dunia,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Ketua Pemuda OKI (OIC Youth) Tantan Taufik Lubis mengapresiasi kesediaan Kapolri untuk menerima pihaknya.

“Mudah-mudahan kita dapat bekerjasama lebih erat, karena kita juga butuh masukan, nasihat dan sinergi dari berbagai pihak,” katanya.