Rusia Larang Turki Akses Jeroan Elektronik Rudal S-400

Rudal S-400 buatan Rusia. Foto dw
Rudal S-400 buatan Rusia. Foto dw

Moskow,Sayangi.com- Rusia menolak memberikan Turki akses terhadap peralatan elektronik dari sistem pertahanan udara S-400 Triumph. Meski Rusia sepakat menjual sistem pertahanan udara S-400 kepada Turki yang juga anggota NATO.

Ankara telah secara resmi membeli sistem ini dari Moskow pada 12 September 2017 senilai dua setengah milyar Dollar AS. Moskow nantinya akan menyerahkan dua unit baterai S-400 dan memberikan lisensi bagi Turki untuk membangun dua unit rudal S-400 lain.

Pembelian itu turut menjadi masalah, karena S-400 tidak bersinergi dengan sistem pertahanan NATO yang dimiliki Turki saat ini. “Kami tidak mau memberi mereka kode elektronik yang bersifat rahasia ini.

Menurut perjanjian, layanan teknis hanya boleh dilakukan oleh Rusia dan mereka tidak boleh mengetahui isi sistem,” ujar seorang sumber militer kepada Gazeta.ru.

Dilansir dari rbth.com (11/10) hal ini berlaku untuk salah satu elemen kunci senjata adalah sistem identifikasi teman atau musuh.

“Kami tidak menyetujui permintaan mereka untuk mengetahui akses ke dalam sistem S-400, jadi sistem identifikasi teman atau musuhnya akan dibuat di Rusia. Turki memaksa kami memberitahu kata kunci dan kendali terhadapnya, tapi kami menolak,” ujar sang sumber.

Di akhir bulan September, Turki mentransfer pembayaran pertama untuk S-400. Menurut pemimpin redaksi majalah Arsenal Otechestva Viktor Murakhovsky, Ankara baru akan menerima sistem ini pada 2020.

“Saat ini Rusia sedang menyelesaikan persenjataan ulang tentara-tentaranya dengan S-400. Setelah itu Rusia akan memenuhi kewajiban berupa pesanan dari Tiongkok dan India terkait sistem ini.

Baru kemudian, Almaz-Antei (perusahaan pengembang S-400) akan mulai mengerjakan sistem ini untuk Turki,” ujarnya kepada Russia Beyond. S-400 merupakan  sistem pertahanan udara paling canggih di dunia.

Meriam langit ini memiliki daya jelajah sejauh 400 kilometer, mampu menghancurkan target di ketinggian hingga 27 kilometer dan membidik 300 sasaran sekaligus. Entah itu pesawat tempur, pesawat pembom, wahana nirawak, peluru kendali atau bahkan pesawat siluman, tidak ada yang luput dari ancaman S-400.

Dikembangkan sejak dekade 1980an, S-400 adalah evolusi termutakhir sistem pertahanan udara Rusia. Saat ini negeri beruang merah itu telah memiliki sebanyak 152 unit sistem rudal S-400 yang terbagi dalam 18 divisi.

Menurut klaim Institut Perdamaian dan Kebijakan Keamanan di Jerman (IFSH), NATO saat ini belum memiliki solusi jitu atas ancaman S-400.Sebuah resimen S-400 terdiri atas sebuah pusat komando dan radar 91N6 yang dijuluki Birg Bird E dan enam peluncur sekaligus.

Namun ragam susunan S-400 bisa diubah sesuai dengan misi yang diemban. Daya jelajah S-400 yang tinggi antara lain berkat sistem peluncur yang menembakkan roket ke ketinggian 30 meter dengan gas sebelum mesin roket dinyalakan.

Satu keunggulan S-400 adalah bahwa ia tidak unidirectional (tidak bergerak atau beroperasi satu arah), radius serangannya 600 kilometer. S-400 merupakan sistem senjata rudal anti-pesawat generasi baru yang dikembangkan oleh Russia’s Almaz Central Design Bureau sebagai upgrade dari keluarga S-300.

S-400 Triumph dengan julukan NATO SA-21 Growler adalah sistem rudal pertahanan udara yang dikembangkan oleh biro desain Almaz Central pabrikan Rusia.

Sistem ini dimaksudkan untuk menggantikan sistem pertahanan udara Rusia S-300P dan S-200. S-400 merupakan upgrade dari serangkaian sistem pertahanan udara S-300 dengan rudal permukaan ke udara.Sistem rudal mulai beropersai pada bulan April 2007

Seperti yang dikatakan Murakhovsky, ini salah satu faktor kunci yang membuat Turki anggota NATO untuk membeli sistem pertahanan udara buatan Rusia ini. Sebagai perbandingan, kompetitor utama S-400 buatan Amerika, MIM-104 Patriot baru mampu menjangkau jarak 180 kilometer dan unidirectional (tidak bergerak atau beroperasi satu arah).