Israel Temukan Hacker Rusia Jelajahi Rahasia A.S

Ilustrasi Lab Kaspersky di negara Rusia .Foto WinNet
Ilustrasi Lab Kaspersky di negara Rusia .Foto WinNet

Washington,Sayangi.com – Dinas intelijen Israel yang memata-matai peretas-peretas pemerintah Rusia menemukan bukti bahwa Rusia telah menggunakan software antivirus Kaspersky Lab. Software ini yang telah digunakan oleh 400 juta orang di seluruh dunia, termasuk lembaga-lembaga pemerintahan AS.

Dikutip dari New York Times (11/10) menyebut  merupakan kasus mata-mata yang mengamati mata-mata yang diamati mata mata.  Perwira intelijen Israel melihat secara real time saat peretas pemerintah Rusia menggeledah komputer di seluruh dunia untuk mendapatkan kode nama program intelijen Amerika.

Para agen Israel yang dua tahun lalu meretas jejaring Kaspersky kemudian memperingatkan AS akan pembobolan yang dilakukan Rusia. Agen Israel yang telah menyusup ke jaringan Kaspersky lalu memperingatkan Amerika Serikat akan gangguan Rusia yang luas yang sebelumnya tidak dilaporkan.

Laporan ini pula yang memicu keluarnya keputusan Washington bulan lalu yang berisi perintah mencabut software Kaspersky dari komputer-komputer pemerintah.

Washington Post juga melaporkan bahwa para agen rahasia Israel mendapati bukti dalam jejaring tool peretasan Kaspersky yang mungkin berasal dari Badan Keamanan Nasional AS (NSA).

Koran ini juga menuliskan setelah diselidiki, NSA mendapatkan bukti bahwa tool-tool itu dimiliki pemerintah Rusia. Akhir bulan lalu, Dewan Intelijen Nasional AS menuntaskan laporan rahasia yang dibagikan ke sekutu-sekutu AS di NATO.

Laporan tersebut menyimpulkan bahwa dinas intelijen Rusia FSB memiliki akses ke database pelanggan dan kode source Kaspersky.

Akses seperti itu telah membuat Rusia bisa melancarkan serangan siber ke pemerintah AS. Selain akses ini bisa dipakai Rusia masuk pada jejaring-jejaring yang mengendalikan perdagangan dan industri AS.

New York Times malaporkan bahwa Rusia telah mencuri dokumen-dokumen rahasia dari seorang staf NSA dengan cara menginstal software antivirus Kaspersky.

Selain NSA ada hampir dua lusin agen pemerintah Amerika menggunakan anti virus buatan Rusia tersebut. Termasuk Departemen Luar Negeri, Departemen Pertahanan, Departemen Energi, Departemen Kehakiman, Departemen Keuangan dan Angkatan Darat, Angkatan Laut dan Angkatan Udara.

Kaspersky Lab sendiri membantah mengetahui ulah peretas Rusia itu, sedangkan badan-badan intelijen AS menyimpulkan bahwa tahun lalu Presiden Rusia Vladimir Putin telah memerintahkan operasi digital untuk membantu mengantarkan Donald Trump ke Gedung Putih.

Pelanggaran terkait Kaspersky hanyalah berita buruk terbaru untuk keamanan rahasia intelijen Amerika. Ini tampaknya tidak terkait dengan kebocoran yang menghancurkan dari N.S.A.

Para hacker tahun lalu yang masuk ke ke grup, masih belum diketahui. Hacker tersebut hanya menyebut dirinya Broker Shadow, yang telah menempatkan banyak dari mereka secara online.

Hingga kini belum diketahui Hacker ini apakah terhubung dengan kebocoran data hacking paralel dari C.I.A. ke WikiLeaks. Dokumen yang telah diposting oleh hacker tersebut,diklasifikasikan C.I.A. sebagai dokumen laporan rutin dengan nama Vault7.

Blake Darché, mantan N.S.A. operator dan salah satu pendiri Area 1 Security mengatakan “Antivirus adalah pintu belakang utama,”.  “Antivirus menyediakan akses yang konsisten, andal dan jarak jauh yang dapat digunakan untuk tujuan apa pun. Mulai dari peluncuran serangan destruktif hingga melakukan spionase terhadap ribuan atau bahkan jutaan pengguna.”

Tidak jelas apakah, atau sampai sejauh mana, Eugene V. Kaspersky, pendiri Lab Kaspersky, dan karyawan perusahaan lainnya telah terlibat dalam peretasan menggunakan produk mereka.