PM Spanyol Beri Ultimatum Carles Puigdemont Batalkan Kemerdekaan Catalonia

Perdana Menteri Spayol Mariano Rajoy (kanan), Pemimpin Separatis Catalonia Carles Puigdemont. Foto Atlantic Sentinel
Perdana Menteri Spayol Mariano Rajoy (kanan), Pemimpin Separatis Catalonia Carles Puigdemont. Foto Atlantic Sentinel

Madrid,Sayangi.com– Perdana Menteri Spanyol, Mariano Rajoy Rabu (11/10) waktu setempat memberi ultimatum selama delapan hari kepada Presiden Catalan Carles Puigdemont agar membatalkan kemerdekaannya.

Berita itu muncul setelah Rajoy pada Rabu pekan lalu mengatakan bahwa kabinet menteri meminta klarifikasi mengenai masalah independensi daerah otonom.

Seperti diberitakan sebelumnya, setelah pertemuan kabinet darurat pada hari Rabu minggu lalu, Rajoy memutuskan untuk mengambil langkah pertama mengacu pada Pasal 155 konstitusi Spanyol. Pasal tersebut yang akan memberi Madrid kekuatan.

Rajoy mungkin akan mengadakan pemilihan regional yang cepat setelah mengaktifkan Pasal 155 undang-undang dasar yang memungkinkannya memberhentikan pemerintah daerah Catalanonia. Pemerintah Spanyol mengatakan bahwa dorongan kemerdekaan Catalonia tidak konstitusional.

PM Spayol juga mengatakan bahwa “referendum ilegal” telah gagal, menambahkan bahwa otoritas Catalan tidak memiliki legitimasi untuk mengajukan sebuah deklarasi kemerdekaan sepihak. Dia menggarisbawahi bahwa pemungutan suara merongrong demokrasi Spayol, persatuan Spanyol dan Statuta Catalonia.

Sementara itu, seperti laporan AP, ada tanda-tanda bahwa pemerintah berusaha mengambil beberapa langkah untuk mengurangi situasi. Pedro Sanchez, kepala kaum sosialis oposisi, mengatakan pada hari Rabu bahwa partainya dan partai PP sayap kanan yang berkuasa telah sepakat untuk melakukan perundingan untuk menegosiasikan kembali undang-undang yang mengatur otonomi daerah.

Dia mengatakan akan ada enam bulan perundingan untuk mereformasi konstitusi, disusul debat di parlemen. Ia juga menambahkan bahwa partainya menginginkan sebuah reformasi konstitusional untuk “membiarkan Catalonia tetap menjadi bagian dari Spanyol”.

Kehilangan Catalonia, yang memiliki bahasa dan budayanya sendiri, merupakan pertaruhan yang sangat tinggi. Spanyol akan kehilangan seperlima dari sumber ekonominya yang lebih dari seperempat dihasilkan dari ekspor.

Selasa (9/11) malam waktu setempat Puigdemont mengeluarkan deklarasi simbolis kemerdekaan dari Spanyol. Hari itu juga pemimpin Catalonia Carles Puigdemont mengatakan bahwa jutaan pemilih mendukung gagasan tersebut.

Namun, dia mengatakan bahwa efek dari deklarasi kemerdekaan tersebut dihentikan untuk melanjutkan pembicaraan dengan Madrid. Namun pemimpin Separatis Catalonia itu, kemudian menangguhkannya dan meminta perundingan dengan pemerintah Madrid.

Pada hari Rabu, Puidgemont mengatakan kepada CNN bahwa pemerintah daerahnya siap untuk mengadakan pembicaraan mengenai kemerdekaan tanpa prasyarat dengan Spanyol.

Sampai saat ini, Carles Puigdemont telah berulang kali mengatakan bahwa hak untuk menentukan nasib sendiri harus ada dalam meja dalam pembicaraan apapun. Spanyol, pada gilirannya, mengatakan bahwa pihaknya tidak dapat mendiskusikan referendum kemerdekaan karena bertentangan dengan konstitusi.

Puigdemont juga mengatakan bahwa Spanyol dan Catalonia seharusnya “tidak memiliki kondisi sebelumnya untuk duduk dan berbicara.”. Alfonso Dastis, menteri luar negeri Spanyol, mengatakan bahwa pidato Puigdemont adalah sebuah “tipuan untuk mengatakan satu hal dan melakukan yang sebaliknya”, tanpa memberikan rincian lebih lanjut mengenai rencana pemerintah tersebut.

Secara terpisah, wakil presiden Komisi Eropa Valdis Dombrovskis mengatakan bahwa separatis Catalonia telah mengajukan banding ke Brussels untuk membantu menengahi dengan Madrid namun Rajoy tidak mencari bantuan Uni Eropa.

“Komisi tersebut mengikuti situasi di Spanyol dengan saksama, dan mengulangi seruan sebelumnya untuk menghormati sepenuhnya tata cara konstitusional Spanyol,” ungkapnya. “Kami mendukung upaya untuk mengatasi perpecahan dan fragmentasi, untuk memastikan kesatuan dan penghormatan terhadap konstitusi Spanyol.”

Sumber: theduran.com