Anggota Parlemen Moskow Sebut Barat “Ancam” Kedaulatan Rusia

Foto Pakistan Today
Foto Pakistan Today

Moskow,Sayangi.com- Anggota parlemen Rusia melaporkan Negara-negara Barat mengancam kedaulatan Rusia dengan mendanai lembaga-lembaga non-pemerintah, mendorong anak-anak muda melakukan aksi protes dan menggunakan media guna membentuk opini mengenai pemerintah.

Menurut laporan Komisi Federal untuk Perlindungan Kemerdekaan Nasional (Federal Commission for the Protection of National Independence/FCPNI), campur tangan Barat dalam urusan dalam negeri Rusia menimbulkan ancaman lebih besar bagi negara tersebut daripada kelompok militan Islam (ISIS).

Komisi tersebut mencantumkan sembilan ancaman terhadap kedaulatan Rusia dari luar negeri, termasuk “penciptaan dan dukungan LSM yang melaksanakan kegiatan politik untuk kepentingan negara asing” dan “hasutan kaum muda untuk melakukan demonstrasi”.

“Penggunaan media dan jaringan sosial digunakan untuk mendiskreditkan negara, institusi kekuasaan (dan) pemimpin politik,” adalah ancaman lain, menurut laporan yang dipublikasikan pada hari Selasa (10/10).

Komisi tersebut didirikan pada bulan Juni sebagai tanggapan atas tuduhan dari Washington bahwa Rusia telah mencampuri pemilihan presiden AS pada 2016. Otoritas AS dan “satelit NATO” mereka secara khusus disebutkan dalam dokumen tersebut.

“Campur tangan dalam urusan dalam negeri Rusia tidak hanya datang dalam bentuk propaganda langsung seperti yang diproduksi oleh media publik Radio Svoboda,”ungkap komisi itu.

Hal ini¬† merujuk laporan pada cabang Radio Free Europe (Radio Liberty) berbahasa Rusia yang didukung Washington. “Itu juga bisa dilihat dalam bentuk program pendidikan yang berpusat pada wartawan Rusia,” katanya.

Pada hari Senin, Rusia mengancam media AS yang beroperasi di negara tersebut dengan batasan hukum baru setelah RTFC yang dikontrol Kremlin mengeluhkan persekusi yang dilakukan oleh Washington. Rusia telah meningkatkan tekanan pada kelompok masyarakat sipil sejak terpilihnya kembali Putin pada tahun 2012.

Sumber: Pakistan Today