Rekonsiliasi Hamas dan Fatah Terobosan Besar Penyatuan Palestina

Seorang warga di Gaza City menyalakan kembang api untuk merayakan kesepakatan Hamas dan Fatah di Kairo/Reuters

Gaza, Sayangi.Com– Ribuan warga Palestina turun ke jalan-jalan di Gaza City merayakan rekonsiliasi Hamas dan Fatah yang ditandatangani di Kairo, Kamis (12/10) kemarin, sebagai terobosan besar penyatuan Palestina.

Pengeras-pengeras suara tak henti memutarkan lagu-lagu nasional, sedangkan para pemuda menari dan berpelukan sembari melambaikan bendera Palestina dan Mesir. Demikian diberitakan Reuters.

Kesepakatan ditandatangani oleh pemimpin delegasi Fatah, Azzam al-Ahmad, pemimpin tim perunding Hamas, Saleh Arouri, dan disaksikan Kepala Dinas Intelijen Mesir, Khaled Fawzi.

Kesepakatan yang dimediasi Mesir itu menjembatani perbedaan besar antara Partai Fatah pimpinan Presiden Mahmoud Abbas yang dapat diterima Barat dengan Hamas yang dilabeli teroris oleh Barat dan Israel.

Penandatangan rekonsiliasi Hamas dan Fatah di Kairo, Kamis (12/10) disebut sebagai  terobosan besar penyatuan Palestina/ AFP

Perpecahan di dalam Palestina selama ini menjadi hambatan terbesar dalam proses perdamaian, di mana Hamas telah tiga kali berperang melawan Israel sejak 2008 dan sampai sekarang tetap menyerukan penghancuran Israel.

Kesediaan Hamas mengalihkan kendali kekuasaan di Gaza kepada Fatah telah menandai pembalikan besar-besaran dalam Hamas yang khawatir diisolasi bantuan keuangan dan politik oleh Arab Saudi cs sebagai tindak lanjut dari aksi isolasi Saudi cs kepada Qatar. Saudi cs menuduh Qatar menyokong militan-militan Islamis, termasuk Hamas.

“Pemerintahan legislatif, pemerintahan konsensus, akan kembali berdasarkan tanggung jawab dan hukum,” kata ketua delegasi Fatah Azzam Al-Ahmad di Kairo.

Al-Ahmad mengatakan, pemerintahan persatuan akan mengendalikan semua lembaga tanpa kecuali, termasuk semua penyeberangan perbatasan dengan Israel dan di Rafah yang merupakan satu-satunya akses Gaza ke Mesir.

Kesepakatan itu menyebutkan pasukan kepresidenan Abbas bertanggung jawab menjaga penyeberangan Rafah pada 1 November dan kendali pemerintahan sepenuhnya di Gaza kepada pemerintah persatuan pada 1 Desember.

Bermusuhan sejak 2007

Kedua faksi, Hamas dan Fatah, bersengketa sejak tahun 2007 dengan Hamas berkuasa di Gaza dan Fatah memerintah di Tepi Barat.

Hamas merebut kemenangan dalam pemilihan parlemen tahun 2006 dan menegakkan kekuasaannya dengan mengusir Fatah dari Gaza.

Warga Palestina yang tinggal di Gaza berharap rekonsiliasi yang disepakati di Kairo juga bisa memperbaiki situasi kemanusiaan di sana, yang tergantung pada bantuan pangan karena pembatasan dan blokade oleh Israel.

Sejak tahun 2006, Israel dan Mesir memperlakukan blokade laut dan darat atas Gaza untuk mencegah serangan dari militan yang berada di Gaza, yang mendapat dukungan dari kelompok Hamas, yang memang menyerukan penghancuran negara Israel.
Blokade tersebut menyebabkan kekurangan listrik dan bahan bakar di wilayah tersebut.

Israel dengan tegas menentang keterlibatan Hamas dalam Otorita Palestina dan pernah mengatakan tidak akan berhubungan dengan Palestina yang terdiri dari kelompok garis keras Hamas.

Selain Israel, beberapa pemerintahan dunia seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Uni Eropa juga menetapkan Hamas -sebagai keseluruhan atau terbatas pada sayap militernya- sebagai kelompok teroris.