Politisi Muda Anti Imigran, Sebastian Kurz, Akan Jadi Kanselir Austria

Pemimpin Partai Rakyat Austrian, Sebastian Kurz, yang meroket popularitasnya karena isu anti imigran /AFP

Wina, Sayangi.Com- Pemilihan Umum Austria yang berlangsung Minggu (15/10) waktu setempat, diprediksi akan dimenangkan oleh Partai Rakyat Austria (OVP) beraliran konservatif pimpinan Sebastian Kurz yang baru berusia 31 tahun.

Hasil beberapa jajak pendapat dan proyeksi exit poll menunjukkan Partai Rakyat Austria menempati peringkat ke atas dengan perolehan 30-31 persen suara, sedangkan Partai Sosial Demokrat dan Partai Kebebasan (FPÖ) yang beraliran kanan berebut tempat kedua.

Sebastian Kurz adalah menteri luar negeri di kabinet sebelumnya di bawah pimpinan kanselir Christian Kern dari Partai Sosial Demokrat. Ia diangkat menjadi menlu Austria pada tahun 2013, saat usianya baru 27 tahun, dan menjadi menteri luar negeri termuda di dunia.

Jika hasil akhir pemilu Parlemen Austria menyatakan OVP menang, Sebastian Kurz akan menjadi kanselir atau kepala pemerintahan termuda di dunia. Usia Kurz dua tahun lebih muda dari pemimpin tertinggi Korea Utara, Kim Jong Un.

Sejumlah pengamat memprediksi Partai Rakyat Austria akan membentuk koalisi dengan Partai Kebebasan mengingat arah kebijakan kedua partai relatif sama, yakni anti imigran.

Sejak memimpin Partai Rakyat, pada Mei 2017, Kurz yang memutuskan berhenti dari studi hukum untuk berkonsentrasi di politik, mengedepankan janji untuk memblokade rute migran ke Eropa dan mematok tunjangan untuk pengungsi ke tingkat rendah.

Dia juga berikrar akan menghalangi orang asing menerima tunjangan sampai mereka telah menetap di Austria selama lima tahun. Isu anti imigran (dan Islam) itulah yang meningkatkan popularitas Kurz meningkat.

Begitu terpilih menjadi pimpinan Partai Rakyat Austria, Kurz menyudahi koalisi dengan Partai Sosial Demokrat pimpinan kanselir Christian Kern sehingga menyebabkan percepatan pemilu.

Kanselir Austria sekaligus pemimpin Partai Sosial Demokrat, Christian Kern, mewanti-wanti bahwa negaranya “berada di persimpangan terpenting sejak beberapa dekade terakhir”.

Sumber: AFP/BBC