Datangi Polda Metro Jaya, Pelapor Anies Baswedan Disarankan ke Bareskrim Polri

Perwakilan dari Banteng Muda Indonesia, Pahala Sirait, di Mapolda Metro Jaya, Selasa (17/10). (Foto: Sayangi.com/Tri Setyo)

Jakarta, Sayangi.com – Pernyataan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengenai penggunaan kata ‘pribumi’ berbuntut panjang. Perwakilan dari Banteng Muda Indonesia, Pahala Sirait hendak melaporkan Gubernur yang baru sehari dilantik itu ke Polda Metro Jaya.

Menurut Pahala, ia sudah berkoordinasi dengan pihak Ditreskrimsus Polda Metro Jaya. Namun ia disarankan, laporan tersebut seharusnya dialamatkan ke Bareskrim Polri.

“Karena yang dilaporkan terkait kepala daerah, jadi kita sekarang tahapan melengkapi berkas pemberkasan, alat bukti, terus kita ke Bareskrim,” ujar Pahala di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (17/10).

Menurutnya, apa yang diucapkan mantan Menteri Pendidikan itu telah melanggar Undang-undang nomor 40 tahun 2008 tentang penghapusan diskriminasi ras dan etnis. Ia juga merasa Anies telah melanggar Instruksi Presiden (Inpres) nomor 26 tahun 1998.

“Apa yang disampaikan tidak sesuai dengan Inpres nomor 26 tahun 1998, dimana ada penghentian penggunaan kata pribumi dan nonpribumi dalam berbagai kegiatan, kebijakan dan penyelenggaran pemerintahan. Kami ranahnya ini, coba kita perjuangkan,” katanya.

Pahala membantah dasar pelaporan itu karena adanya unsur politis. Karena menurutnya, rencana pelaporan itu murni dari aspek hukum.

“Kita nggak bicara politik di sini, hukum saja, murni,” tegasnya.

Saat ditanya mengenai statemen Anies yang dipermasalahkan tersebut dalam konteks sejarah, Pahala menuturkan, biar nanti hal itu didalami penyidik. Pasalnya, penyidik yang memiliki hak untuk memanggil saksi-saksi terkait laporannya.

“Jangan dulu bicara konteks penyidikan ya, biar saja nanti ahli bahasa, ahli gestur kan yang menentukan,” jelasnya.

Pihaknya, lanjut Pahala, juga sudah menyiapkan beberapa alat bukti untuk mendukung laporannya. Menurutnya, sudah tidak ada masalah mengenai bukti yang akan dibawa.

“Nggak ada masalah untuk bukti, ada video dan transkrip berita,” pungkasnya.

Di lain pihak, Anies Baswedan telah mengklarifikasi ucapannya yang sempat menuai pro kontra tersebut. Menurutnya, penggunaan kata ‘pribumi’ dalam pidatonya merujuk pada masa kolonialisme.

“Istilah itu (pribumi) digunakan konteks pada era penjajahan, karena saya juga tulis (pidatonya), itu pada era penjajahan dulu,” kata Anies di Balai Kota DKI Jakarta, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Selasa (17/10).