Duterte Minta Pemimpin Indonesia Tumpas Bajak Laut

Presiden Filipina Rodrigo Duterte.
Presiden Filipina Rodrigo Duterte.

Manila,Sayangi.com- Presiden Rodrigo Duterte pada hari Kamis (19/20) mengatakan pembajakan di Selat Malaka perlu dihentikan sebelum hal itu akan mempengaruhi perdagangan di wilayah tersebut.

Duterte meminta para pemimpin Indonesia dan Malaysia untuk ”meledakkan” bajak laut atau perompak dari perairan regional. Kelompok Abu Sayyaf yang kerap menculik awak kapal untuk uang tebusan dikhawatirkan akan membuat perairan regional menjadi “Somalia kedua”.

Untuk itu Rodrigo Duterte selaku Presiden Filipina meminta para pemimpin Indonesia dan Malaysia untuk ”meledakkan” bajak laut atau perompak di wilayah perairan regional.

Duterte mengatakan bahwa dia akan mencari jalan keluar mengenai masalah ini dengan para pemimpin negara-negara yang terkena dampak.  Seperti Malaysia dan Indonesia untuk meminta solusi militer yang menentukan.

“Saya cenderung berurusan dengan kartu terakhir saya, itu adalah karakter saya Dan jika saya bisa berbicara dengan para pemimpin, ada satu hal yang bisa saya tawarkan. Ledakkan mereka keluar dari laut untuk menjaga agar jalur pelayaran kita tetap terbuka dan aman, “ungkap Duterte.

Dia mengangkat isu tersebut di Forum Tingkat Tinggi ASEAN ke 50 di Manila. Dalam KTT tersebut  dia mengatakan bahwa terorisme telah memasuki jalur pelayaran di Asia Tenggara.

”Saya baru saja menyelesaikan perang di Marawi, mungkin saya bisa memfokuskan kembali seluruh angkatan bersenjata untuk menangani masalah ini sekali dan untuk selamanya,” ujar Duterte.

Ada sesuatu yang harus dilakukan, tindakan drastis untuk situasi yang sangat berbahaya,” ungkapnya. Duterte juga menuturkan Kelompok militan bersenjata pro-ISIS sempat menyerbu dan menduduki sebagian wilayah Marawi sejak 23 Mei lalu.

Duterte menganggap kelompok militan itu berupaya untuk membangun “kekhalifahan”-nya diwilayah Asia Tenggara. Konflik yang terjadi Marawi dilaporkan telah menewaskan lebih dari 1.000 orang dan memaksa sekitar 400.000 warga sipil mengungsi.

“Mereka telah melakukan cukup banyak pembajakan di sana, cukup banyak uang yang dikumpulkan dari uang tebusan, tanpa perlu membunuh orang, memenggal mereka di depan kamera.

Saya pikir itu harus dihentikan,” kata Duterte. Pada tahun 2016 Duterte mengatakan bahwa dia akan meningkatkan keamanan di wilayah perairan Selat Malaka bersama Malaysia dan Indonesia

Ketiga telah meluncurkan patroli udara dan laut yang terkoordinasi satu sama lain. Patroli bersama tersebut guba menumpas ancaman keamanan di perairan regional di ketiga negara ini.

sumber: gmanetwork.com