Trump Akan Izinkan File Pembunuhan Presiden John F. Kennedy Dibuka

Presiden AS Donald Trump dan Presiden Amerika yang terbunuh John F Kennedy
Presiden AS Donald Trump dan Presiden Amerika yang terbunuh John F Kennedy

Washington, Sayangi.com Presiden Amerika Serikat Donald Trump berencana untuk mengizinkan agar dokumen pembunuhan Presiden John F. Kennedy pada November 1963 dibuka.

Hal ini ia ungkapkan pada Sabtu (21/10) waktu setempat. Namun, Trump mengatakan pengeluaran dokumen rahasia, yang telah sekian lama ditutup itu akan tergantung pada informasi yang ia terima lebih lanjut. Rencananya Dokumen dijadwalkan dibuka pekan depan.

“Sebagai presiden, saya akan mengijinkan dokumen-dokumen JFK yang sejak lama diblokir dan dirahasiakan untuk dibuka,” katat Trump melalui cuitannya  di twitter.

Dokumen Rahasia tentang kematian Kennedy ini dijadwalkan akan dirilis oleh lembaga arsip nasional AS, paling lambat pada 26 Oktober bulan ini.

“Presiden meyakini bahwa dokumen-dokumen ini perlu dikeluarkan demi kepentingan keterbukaan secara penuh. Terkecuali jika ada lembaga yang memberikan alasan keamanan nasional yang memaksa dan jelas atau putusan menyangkut penegakan hukum,” kata seorang pejabat Gedung Putih.

Pembunuhan Kennedy yang terjadi pada 22 November 1963 itu menghentikan “Camelot”, yaitu istilah yang digunakan untuk menyebut 1.000 hari masa kepresidenan Kennedy. Saat terbunuh Kennedy  berusia 46 tahun dan saat itu ia merupakan salah satu presiden Amerika Serikat yang paling dipuja.

Ribuan buku, artikel, tayangan televisi, film dan dokumentasi telah dibuat soal pembunuhan tersebut. Berbagai jajak pendapat menghasilkan kesimpulan bahwa sebagian besar masyarakat Amerika masih tidak mempercayai bukti resmi tentang pembunuhannya.

Masyarakat AS hingga kini masih belum mempercayai Lee Harvey Oswald sebagai pelaku tunggal dalam pembunuhan Kennedy. Dokumen tentang terbunuhnya Kennedy mencakup lebih dari 3.000 yang belum pernah dilihat oleh publik.  Dan lebih dari 30.000 yang sebelumnya telah diluncurkan, namun dengan redaksi.

Dalam beberapa tahun, U.S. National Archives telah mengeluarkan sebagian besar dokumen terkait kasus itu. Namun bab bab terakhir, yang terdiri dari puluhan ribu halaman, masih belum dibuka.

Saat ini hanya Presiden Trump yang memiliki wewenang untuk memutuskan apakah sejumlah dokumen masih harus dirahasiakan atau dikeluarkan dalam bentuk yang sudah disunting.

Washington Post dan beberapa media lainnya mengutip sejumlah pejabat yang mengatakan bahwa badan-badan pemerintah telah melobi Trump untuk menahan beberapa dokumen.

Penahanan oleh sejumlah pejabat dengan mempertimbangkan bahwa dokumen-dokumen tersebut bisa menelanjangi operasi intelijen dan penegakan hukum, operasi militer atau hubungan luar negeri.