Dukung Tol Laut, Pelindo II Kebut Digitalisasi Pelabuhan

Dirut Pelindo II Elvyn G Masassya (tengah)

Jakarta, Sayangi.com – PT Pelindo II Persero (IPC) mempercepat implementasi digitalisasi di 12 pelabuhan untuk menuju “smart port” dalam kerangka mendukung program tol laut sekaligus menurunkan biaya logistik nasional.

“Digitalisasi pelabuhan menjadi keharusan agar bisa bersaing dengan pelabuhan kelas dunia. Digitalisasi menyeluruh mulai pelayanan kapal saat dilaut, di terminal hingga jasa pendukung pelabuhan,” kata Direktur Utama IPC Elvyn G Masassya di sela Media Gathering 2017 di Bandung, Selasa, seperti dilaporkan Antara.

Menurut Elvyn, dengan digitalisasi seluruh aktivitas di pelabuhan bisa dideteksi melalui sistem yang terintegrasi.

Sementara itu, Senior VP Operasi IPC David P Sirait program digitalisasi pelabuhan akan memangkas biaya-biaya bagi pengguna jasa pelabuhan, mulai dari turunnya tarif angkut sampai pemangkasan waktu tunggu bongkar muat.

“Program ini juga sekaligus mendukung tol laut yang dicanangkan pemerintah,” katanya.

Ia menjelaskan, saat ini IPC mengelola sebanyak 12 pelabuhan, meliputi Tanjung Priok, Sunda Kelapa, Ciwandan Banten, Cirebon, Panjang Lampung, Palembang, Pulau Baai Bengkulu, Teluk Bayur Padang, Pangkal Balam, Tanjung Pandan, Talang Duku Jambi, dan Pontianak.

Di seluruh pelabuhan akan dilakukan pengembangan infrastruktur baik dari fisik bangunan dan peralatan hingga soft infrastruktur.

“Program digital port menjadi prioritas, sehingga nantinya tidak ada lagi dokumen fisik karena sudah serba digital. Tidak ada lagi pembayaran jasa pelabuhan secara tunai,” ujarnya.

Dari sisi fisik, jumlah karyawan yang berada di pelabuhan yang menangani barang ekspor maupun impor akan semakin berkurang, karena akan bisa ditangani secara teknologi.

Dengan begitu, David juga memastikan bahwa tidak akan ada lagi praktik-praktik pembayaran “undertable”, karena serba digital dengan berbagai solusi seperti e-bangking, e-mobile, e-service, i-cargo sehingga pengguna jasa layanan perlu lagi datang ke pelabuhan.

Para pengusaha tentunya dapat memilih sewa cargo mana yang lebih murah karena sudah transparan, barang yang diekspor maupun diimpor bisa di-tracking sudah sampai atau masih dalam perjalanan.

Meski begitu, tambahnya, tidak seluruh pelabuhan bisa langsung menerapkan digitalisasi maupun otomasi secara penuh, karena masing-masing pelabuhan memiliki karakter tersendiri dan disesuaikan dengan kondisi wilayah,

Setidaknya terdapat 8 pihak yang terkait di pelabuhan, yaitu otoritas pelabuhan, agen pelayaran, bea dan cukai, terminal, perusahaan pelayaran, jasa pengiriman, terminal billing, dan perusahaan truk bongkar muat.

“Secara bertahap para pihak tersebut harus diedukasi sehingga digitalisasi dan otomasi pelabuhan bisa terealisasi,” ujarnya.