Rusia Gunakan Hak Veto Perpanjang Penyelidikan Penggunaan Senjata Kimia di Suriah

Seorang pria mengumpulkan sampel dari lokasi serangan gas sarin yang dicurigai di Khan Sheikhoun, Suriah, pada 4 April. Foto Omar Haj Kadour / AFP / Getty Images.
Seorang pria mengumpulkan sampel dari lokasi serangan gas sarin yang dicurigai di Khan Sheikhoun, Suriah, pada 4 April. Foto Omar Haj Kadour / AFP / Getty Images.

Geneva,Sayangi.com- Rusia memberikan hak veto di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa pada hari Selasa (24/10) guna mencegah pembaharuan mandat misi penyelidikan penggunaan senjata kimia di Suriah.

Penyelidikan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Organisasi Larangan Senjata Kimia (OPCW) yang dikenal sebagai Joint Investigative Mechanism (JIM) dibentuk oleh 15 anggota Dewan Keamanan PBB tahun 2015. Penyelidikan tersebut telah diperbaharui pada tahun 2016 dan mandatnya akan berakhir pada pertengahan November tahun ini.

JIM dijadwalkan membacakan laporannya pada minggu ini 26 Oktober tentang siapa yang bertanggung jawab atasserangan kimia pada 4 April lalu di Khan Sheikhoun, kota kekuasaan oposisi Presiden Suriah Bashar al-Assad. Senjata kimia tersebut telah menewaskan puluhan orang.

Sikap Rusia ingin membahas laporan tersebut sebelum memberikan suara mengenai perpanjangan mandat itu. Vassily Nebenzia duta besar Rusia untuk PBB mengungkapkan negaranya tidak akan memperpanjang misi ini hingga JIM melaporkan hasil penyelidikannya.

“Jangan mencoba untuk menciptakan kesan bahwa JIM akan menjadi surat mati kecuali jika kita mengadopsi resolusi ini hari ini,” kata Nebenzia sebelum memberikan suara.

“Kami siap memperpanjang JIM setelah publikasi laporan tersebut dan kita akan membahasnya setelah tanggal 26 Oktober,” ujar Nebenzia, Selasa (24/10).

Pada pemaparan besok, 26 Oktober waktu setempat, JIM akan membeberkan hasil penyelidikan mereka mengenai pihak yang bertanggung jawab atas serangan kimia pada 4 April lalu di Khan Sheikhoun. Kota ini merupakan basis kekuasaan kaum oposisi pemerintah Suriah.

Pada Juni lalu, tim pencari fakta OPCW sudah menyatakan bahwa dalang di balik serangan yang menewaskan puluhan orang itu menggunakan gas sarin. OPCW juga sudah memverifikasi bahwa dari 27 serangan kimia yang terjadi di Suriah, 25 di antaranya dilakukan oleh pemerintah setempat.

Namun menurut Rusia sebagai sekutu rezim Presiden Bashar al-Assad, mengatakan bahwa kini sudah hampir tidak ada penggunaan senjata kimia di Suriah.

Duta Besar A.S. untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa Nikki Haley, yang melakukan perjalanan ke Afrika,¬†mengecam Rusia.¬† Ia mengatakan bahwa “Rusia sekali lagi menunjukkan bahwa mereka melakukan apapun untuk memastikan rezim Assad yang tidak beradab tersebut tak mendapatkan ganjaran atas penggunaan senjata kimia mereka yang terus menerus.

Setelah pemungutan suara, Nebenzia mengatakan penghapusan senjata kimia di Suriah telah hampir selesai.

Dalam laporan terakhirnya akhir bulan lalu, OPCW mengatakan telah memverifikasi penghancuran 25 dari 27 fasilitas produksi senjata kimia yang diumumkan oleh Suriah dan terus mempersiapkan sebuah inspeksi untuk mengkonfirmasi kondisi saat ini dari dua yang terakhir.

Negara China memilih abstain pada pemilihan hari Selasa ini. Sementara Bolivia mendukung Rusia dalam pemungutan suara tersebut. Sebelas negara anggota DK Keamanan memilih mendukung teks tersebut.