AS Latihan Perang Nuklir di Semenanjung Korut Minta DK PBB Rapat

Ja Song Nam Duta Besar Korea Untuk PBB. Foto Livermint
Ja Song Nam Duta Besar Korea Untuk PBB. Foto Livermint

New York,Sayangi.com- Kapal induk bertenaga nuklir Amerika Serikat, USS Ronald Reagan, yang baru saja latihan tempur dengan angkatan laut Korea Selatan tak jauh dari wilayah Korea Utara.

Duta Besar Korea Utara (Korut) untuk PBB, Ja Song Nam, menyebut latihan angkatan laut Amerika Serikat (AS) di dekat Semenanjung Korea baru-baru ini sebagai persiapan perang nuklir. Bagi Korut Latihan Militer AS merupakan serangan pre-emptive melawan Pyongyang. Dia meminta DK PBB rapat untuk mendiskusikan masalah ini.

Dilansir Bloomberg, Kamis (26/10/2017),permintaan diplomat Pyongyang itu disampaikan melalui surat yang salinannya dikirim kepada The Associated Press. Menurut Ja Song Nam, latihan angkatan laut AS baru-baru ini adalah yang terbesar. “Yang dilancarkan dengan memobilisasi aset strategis nuklir,” tulis Ja.

Ia melanjutkan latihan digelar setelah Presiden AS Donald Trump bulan lalu membuat pernyataan paling ganas, yakni ingin menghancurkan DPRK (Korut) secara total. Ja mengatakan, latihan angkatan laut Washington yang dimulai pada 16 Oktober dan melibatkan kapal induk bertenaga nuklir USS Ronald Reagan.

Kapal tersebut memuat tiga kapal selam nuklir, kapal perusak Aegis dan lebih dari 40 kapal perang serta sejumlah jet tempur dari segala jenis. Hal ini telah meningkatkan ketegangan di semenanjung Korea.

Latihan lima hari dengan angkatan laut Korea Selatan tersebut digelar menjelang kunjungan resmi Trump ke Asia bulan depan. Washington dan Seoul secara teratur melakukan latihan militer gabungan yang dikecam Pyongyang sebagai latihan invasi.

”Apa yang tidak bisa diabaikan,” kata Ja. ”Adalah fakta bahwa AS, yang tidak merasa puas dengan latihan militer gabungan di semenanjung Korea. Ia melakukan tekanan militer terhadap DPRK dalam skala dunia.

Dan yang kalah penting ini merupakan upaya AS mengenalkan NATO dan angkatan bersenjata pengikutnya yang lain datang ke semenanjung Korea jika terjadi keadaan darurat,” papar Ja.

Dalam surat yang ditujukan kepada Duta Besar Prancis Francois Delattre dan Presiden Dewan Keamanan PBB, Korut meminta dewan tersebut untuk memulai mendiskusikan latihan militer gabungan AS. Pemerintah Korut menyatakan kondisi tersebut sebagai ancaman jelas terhadap perdamaian dan keamanan internasional.

”Tidak ada negara lain di dunia ini daripada DPRK yang pernah mengalami ancaman nuklir ekstrem dan langsung dari AS untuk waktu yang lama. Rakyat Korut menyaksikan di pintu gerbangnya bahwa latihan perang nuklir yang paling kejam dan ganas dalam skala gaya, tujuan dan esensi mereka,” lanjut duta besar Ja Song Nam.

Korut sejatinya telah berulang kali mendesak DK PBB untuk membahas latihan militer gabungan AS dan Korea Selatan, namun desakan itu diabaikan. Terlebih, AS adalah anggota dewan tetap pemegang hak veto.

Jika dewan menolak permintaan DPRK lagi ini akan menunjukkan secara lebih jelas bahwa badan PBB hanyalah alat politik AS,ungkap Ja Song Nam Dubes Korut di PBB.