Waspadai Operasi Dengan Peralatan Robotik Tidak Selalu Efektif

Foto Avensonline
Foto Avensonline

Soul,Sayangi.com- Operasi dengan bantuan sistim robot mekanis jauh lebih mahal daripada operasi invasif minimal lainnya. Namun ternyata operasi dengan bantuan Robot tidak memperbaiki hasil pembedahan untuk kasus tumor ginjal dan kanker dubur.

Dokter In Gab Jeong dari Universitas Ulsan College of Medicine, Seoul, Korea  Selatan. Jeong mengatakan kepada Reuters Health melalui email bahwa meningkatnya prosedur operasi dengan menggunakan robot yang mahal sebagai pengganti operasi laparoskopi.

Penggunaan robot tersebut  tanpa memastikan keuntungan bagi pasien adalah masalah yang tidak hanya terjadi pada bidang urologi tetapi juga pada keseluruhan bidang bedah,” “Hal ini dapat menyebabkan peningkatan biaya perawatan medis yang sangat besar” dan dapat menjadi beban yang signifikan pada sistem layanan kesehatan”.

In Gab Jeong. Foto Asan Medical Center
In Gab Jeong dari Universitas Ulsan College of Medicine, Seoul, Korea  Selatan  mengungkapkan operasi  dengan bantuan robot  belum dapat memastikan keuntungan bagi pasien. Foto Asan Medical Center

Dikutip dari Reuters (26/10) dalam operasi yang dibantu robot, instrumen yang sama yang digunakan dalam operasi laparoskopi dihubungkan ke perangkat robot yang memungkinkan visualisasi 3 dimensi. Ketiganya meliputi rentang gerak instrumen yang lebih banyak, dan meningkatnya fungsi ergonomi untuk ahli bedah.

Pemasaran dan persaingan yang luas di antara rumah sakit telah menyebabkan penggunaan operasi dengan bantuan robot secara luas untuk berbagai prosedur. Namun tetap kontroversial karena kenaikan biaya dan kurangnya bukti hasil perbaikan dibandingkan dengan pendekatan invasif non-robot,ungkap Jeong.

Dalam sebuah penelitian yang dilaporkan dalam Journal of American Medical Association, tim Jeong menggunakan basis data Amerika untuk membandingkan hasil dan biaya operasi dengan bantuan robot dibandingkan operasi laparoskopi.  Sebagai contoh bedah ginjal, biaya perawatan kesehatan secara signifikan lebih tinggi dengan operasi yang dibantu robot

Penelitian menemukan sekitar 27 persen dari keseluruhan jumlah operasi pada 2015 di lakukan dengan bantuan robotik. Angka ini melonjak dari 1.5 persen pada 2003. Operasi laparoskopi menurun secara paralel selama periode sesudah tahun 2015.

Setelah memperhitungkan berbagai faktor, operasi pembedahan robotik memiliki tingkat komplikasi utama yang sama dengan operasi laparoskopi. Ini termasuk transfusi darah dan rawat inap di rumah sakit yang cukup lama.

Namun biaya yang harus dikeluarkan untuk operasi dengan bantuan robotika rata-rata mencapai 2.678 dolar (2.272,67 euro). Tentu saja biaya ini lebih tinggi daripada operasi laparoskopi, terutama karena waktu operasi yang lebih lama dan biaya suplai yang lebih tinggi.

“Perkembangan dan penggunaan platform robot mungkin bisa membantu dalam perawatan pasien,” kata Jeong. “Namun, penelitian ilmiah mengenai efektivitas biaya dan keamanan terkadang tidak dilakukan dengan cukup baik.

Dan sistim robot cepat menyebar di bidang medis karena berbagai alasan. Seperti pemasaran perusahaan, preferensi pasien terhadap teknologi terbaru, dan rekomendasi dari rumah sakit maupun para dokter. ”

Dalam jurnal yang sama di edisi kedua penetilian Dr. David Jayne dari Rumah Sakit Universitas St. James di Leeds, Inggris dan rekan-rekan melakukan penelitian dari 29 pusat di 10 negara.

Para tim dokter ini meneliti apakah operasi dengan bantuan robot cenderung tidak perlu mengubah menjadi prosedur operasi terbuka, dibandingkan dengan operasi laparoskopi konvensional pada 471 pasien yang menderita kanker dubur.

Kelompok yang menjalani operasi dengan bantuan robotik memerlukan waktu rata-rata 37,5 menit lebih lama dibanding kelompok yang menjalani operasi laparoskopi konvensional. Tetapi perangkat robot tersebut tidak mengurangi kebutuhan untuk mengubah beberapa operasi menjadi prosedur operasi terbuka.

Perangkat robot juga tidak mengurangi tingkat komplikasi, baik selama proseduratau dalam 30 hari setelah prosedur.