Di Depan Peserta Jambore, BPH Migas dan Pertamina Berharap Pemuda Kembangkan Energi Baru

Anggota Komite BPH Migas Suryono Hadiwidjoyo dan perwakilan dari Pertamina Fahmi Fikri saat mengisi stadium general di acara Jambore Kebangsaan dan Wirausaha di Cibodas, Jumat (27/10). (Foto: Sayangi.com/Tri Setyo)

Cibodas, Sayangi.com – Anggota Komite Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Saryono Hadiwidjoyo memberi stadium general kepada para peserta Jambore Kebangsaan dan Wirausaha. Di hari ketiga pelaksanaan jambore, para peserta jambore masih terlihat antusias mengikuti materi yang diberikan oleh para pembicara.

Dalam stadium general yang diberikannya, Saryono mengatakan, bahwa peran energi baru dan terbarukan mutlak diperlukan Indonesia di masa yang akan datang. Apalagi hingga saat ini, Indonesia masih tergantung pada Migas yang berbahan dasar fosil.

“Cadangan minyak Indonesia hingga saat ini hanya tersisa untuk 12 sampe 15 tahun kedepan. Kalau untuk gas bumi kita masih cukup sampai 2027 atau 2035, sehingga kedepannya, harus dibantu energi baru dan terbarukan,” ujar Suryono di Bumi Perkemahan Mandalawangi, Cibodas, Jumat (27/10).

Saryono juga menjelaskan, saat ini Indonesia sudah mengimpor BBM untuk memenuhi kebutuhan nasional. Hal ini karena konsumsi BBM yang tiap tahun makin meningkat, namun

“Kondisi saat ini kita BBM sudah impor, semakin tahun semakin banyak impornya. Kita sudah tidak bisa memenuhi kebutuhan lagi, salah satunya karena kilang kita mayoritas kilang tua, hanya kilang Balongan yang termuda,” jelasnya.

Migas, lanjut Saryono, sangat berperan bahkan menjadi salah satu pilar penting dalam ketahanan nasional. Salah satu contohnya, ketika pemerintah memutuskan untuk menaikkan harga BBM.

“Migas merupakan salah satu pilar ketahanan nasional, ketahanan politik. Buktinya adalah ketika pemerintah mengambil keputusan untuk menaikkan harga BBM. BBM kita punya dimensi politik, bukan energi saja,” tegasnya.

Keterbatasan stok Migas ini, kata Saryono, juga memiliki sisi positif bagi pemuda dan mahasiswa. Kedepannya, pemuda dan mahasiswa diharapkan dapat menciptakan energi baru dan terbarukan.

“Kedepan, kita butuh energi yang available dan fleksibel, ini peluang pemuda dan mahasiswa untuk berkreasi. Peranan mahasiswa dan pemuda besar untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap minyak,” paparnya.

Lebih jauh Saryono juga menerangkan, bahwa peluang mengembangkan usaha bagi para pemuda di bidang energi baru dan terbarukan cukup besar. Ia berharap dengan adanya kegiatan jambore ini, pemuda Indonesia dapat berkreasi mengembangkan energi baru dan terbarukan.

“Energi baru dan terbarukan ada peluang disana, ada energi angin, bio fuel. Saya bangga ternyata mahasiswa dan pemuda masih sangat concern untuk masalah ekonomi,” tuturnya.

Senada dengan yang disampaikan Saryono, perwakilan dari Pertamina Fahmi Fikri mengatakan, memang Indonesia masih memiliki stok BBM untuk beberapa tahun kedepan. Namun, Indonesia juga sudah harus memikirkan alternatif energi berbahan dasar fosil dari sekarang.

“Produksi minyak dan cadangannya memang masih ada, namun lambat laun akan turun. Sudah saatnya kita memikirkan penggunaan energi baru dan terbarukan dari sekarang,” tegasnya.

Di beberapa daerah, kata Fahmi, pemuda sudah menunjukkan karyanya dengan mengembangkan energi alternatif di wilayahnya. Ia berharap, para peserta jambore dapat meniru atau mengembangkan energi baru yang lain.

“Ada saya temui, pemuda yang mengembangkan sampah jadi listrik. Gas dari kotoran sapi jadi listrik dan lain sebagainya,” terangnya.

Saat ini, kata Fahmi, energi yang paling potensial untuk dikembangkan adalah energi solar (matahari). Hal ini mengingat sinar matahari di Indonesia cukup tinggi intensitasnya.

“Kembangkan energi solar, bayangkan di negara tropis seperti Indonesia, sinar matahari hampir sepanjang tahun menerangi. Ini potensi yang harus kita kembangkan,” cetusnya.

Menurut Fahmi, di beberapa negara sudah ada genteng yang sekaligus berfungsi sebagai penyerap energi solar. Nantinya dari genteng tersebut, akan dikonversikan menjadi energi listrik yang dapat menyalakan alat elektronik.

“Ada genteng solar, tapi itu baru di beberapa negara seperti Tiongkok. Itu adalah salah satu peluang bisnis yang harus dikembangkan oleh para pemuda dan mahasiswa,” tukasnya.

Di hari ketiga ini, para peserta Jambore Kebangsaan dan Wirausaha mengikuti beberapa kegiatan alam dan aksi sosial. Diantaranya adalah seperti naik sekaligus membersihkan Gunung Gede, aksi bersih-bersih rumah ibadah, dan pembagian sembako dengan warga sekitar.

Selain itu, diadakan juga lomba Stand Up Comedy, outbound dan Orasi Pancasila yang diikuti oleh perwakilan dari seluruh OKP yang hadir.