Lewat Strategi Iran Sukses “Menangkan Perang Dingin” Dengan Arab Saudi

Hassan Rouhani Presiden Iran. Foto Masable
Hassan Rouhani Presiden Iran. Foto Masable

Teheran,Sayangi.com- Serangan rudal Yaman hingga pengunduran diri perdana menteri Libanon, “Perang Dingin” antara perseteruan antara Arab Saudi dan Iran telah memanas.

Saat ini Iran sedang di atas angin. Negeri Syiah itu tidak hanya memanen rezeki dari perjanjian nuklir, tapi juga mendesak Arab Saudi untuk tidak melebarkan pengaruhnya di Timur Tengah. Saudi Arabiapun mulai gugup dan akan berlindung pada Donald Trump.

Asal muasal perseteruan kedua negara ini adalah Pembangkit listrik Sunni Arab Saudi dan Iran. Bagaimanapun kekuatan Syiah yang dominan, memiliki persaingan jangka panjang yang didasarkan pada kepentingan geostrategis karena perbedaan agama.

Menghadapi seluruh Teluk, dua kekuatan kaya energi telah berlangsung selama puluhan tahun berada di sisi konflik yang berlawanan di Timur Tengah.Revolusi Iran tahun 1979 dan kemunculan Republik Islam dengan kemarahannya yang sangat anti-Amerika dianggap sebagai ancaman ganda.

Monarki Sunni konservatif di Semenanjung Arab,dianggap telah bersekutu dengan Amerika Serikat. Seperti diketahui Arab Saudi adalah pendukung keuangan utama diktator Irak Saddam Hussein selama perang 1980-1988 dengan Iran.

Clement Therme, seorang peneliti di Institut Internasional untuk Studi Strategis menyebutkan Saat Irak melemah setelah Perang Teluk 1991, Arab Saudi dan Iran menjadi “dua kekuatan regional utama,”

Putaran terakhir ketegangan dimulai ketika Riyadh dan Teheran memutuskan hubungan diplomatik pada Januari 2016. Saat itu orang-orang Iran menyerbu kedutaan dan konsulat Arab Saudi sebagai tanggapan atas eksekusi seorang ulama Syiah yang terkemuka di Saudi.

Para Gadis Iran di kedai kopi. Foto New internasionalist.
Para Gadis Iran di kedai kopi. Foto New internasionalist.

Retorika di antara keduanya semakin berkembang, termasuk di dengan negara tetangga Arab Saudi, Qatar. Riyadh dan beberapa sekutu Sunni memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar pada Juni 2017.

Riyard dan para sekutunya menuduh Doha mendapat dukungan untuk ekstremisme dan hubungan dengan Iran. Namun tentu saja Iran menangkal tuduhan tersebut.

Pada akhir pekan pertama bulan November, permusuhan Iran dan Riyard memasuki suhu panas terbaru. Pertama, perdana menteri Lebanon yang didukung Saudi, Saad Hariri, dalam sebuah siaran dari Riyadh mengumumkan pengunduran dirinya. Hariti yang menyalahkan “pegangan” Iran di negaranya melalui gerakan Syiah Hizbullah.

Beberapa jam kemudian, Arab Saudi mengatakan bahwa pertahanan udara di dekat Riyadh dicegat dan menghancurkan sebuah rudal yang ditembakkan dari Yaman. Di wilayah tersebut sebuah koalisi pimpinan-Arab sedang memerangi pemberontak Syiah yang didukung Iran.

Hal itu membuat sebuah perang kata-kata yang sengit antara Riyadh dan Teheran, dengan Pangeran Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman menuduh Iran “agresi militer langsung”.

Teheran membantah terlibat dalam serangan rudal tersebut, dengan Presiden Hassan Rouhani memperingatkan bahwa “kemungkinan” Iran akan menangkis tantangan apapun.

Popularitas Presiden Hassan Rouhani menguat sejak Donald Trump berkuasa di Gedung Putih. Saat ini Iran fokus memanen sebanyak mungkin keuntungan dari perjanjian nuklir dan menjaga pengaruhnya di kawasan yang kian meluas. Konsensus itu ikut menjaga stabilitas politik di Teheran.

Kelonggaran embargo ekonomi membuahkan lonjakan pertumbuhan di sejumlah sektor kunci. Dana Moneter Internasional memperkirakan nilai Produk Domestik Brutto Iran akan meroket dari 23,3 miliar menjadi 427,7 milliar Dollar AS pada 2017.

Setelah banjir investasi di Cina, pekan ini giliran Presiden Rusia Vladimir Putin yang datang dan membawa kontrak energi senilai 30 miliar Dollar AS.Di panggung Diplomasi Teheran pun rajin menebar pesona.

Eropa kini mendukung Iran mempertahankan perjanjian nuklir yang ingin dipreteli oleh Presiden AS Donald Trump. Agresi Gedung Putih juga mendorong Rusia dan Cina memperkuat dukungannya atas rejim di Teheran.

Embargo Arab Saudi dan tiga negara Arab lain hingga kini urung memaksa Qatar memutus pertalian dengan Iran. Malah sebaliknya. Di balik krisis tersebut Doha juga membidik peluang bisnis dengan berekspansi dan menebar investasi. Qatar Airways misalnya membeli Cathay Pacific dan menggandakan kapasitas layanan logistik.

Kedua negara adidaya Islam di Timur Tengah itu tidak hanya merangkai aliansi buat memukul kekuatan Kurdi di Irak dan Suriah, tapi juga bahu membahu menggembosi pengaruh Arab Saudi.

Ketika krisis Qatar mulai meruncing, Presiden Recep Tayyip Erdogan buru-buru berikrar dukungan pada Doha. Baru-baru ini ketiga negara berupaya mengakali embargo dengan membangun koridor logistik.

Stabilitas keamanan di Irak saat ini nyaris sepenuhnya bergantung pada Iran. Ketika etnis Kurdi menyatakan kemerdekaan di wilayah utara, adalah milisi Syiah dukungan Iran yang membantu pasukan Irak meredam pemberontakan. AS sempat mendesak Irak agar mengusir milisi tersebut. Tapi Baghdad menolak.

Pengaruh Teheran pekat menyelebungi Libanon, terutama sejak penarikan mundur pasukan Suriah 2005 silam. Saat ini lingkar kekuasaan di Beirut tidak berdaya menghadapi Hizbullah yang dibekingi Iran.

Buat memecah kebuntuan, Perdana Menteri Hariri mengundurkan diri atas desakan Riyadh. Langkah itu juga diduga buat memancing konflik antara Israel dan Hizbullah. Perang saudara yang dikobarkan milisi Houthi di Yaman dengan uluran tangan Teheran menempatkan Arab Saudi dalam posisi pelik.

Sejauh ini kampanye militer Riyadh tidak hanya gagal menghancurkan kekuatan milisi Syiah itu, tetapi malah membuahkan hujan kritik dunia internasional karena memicu bencana kemanusiaan.

Presiden Suriah Bashar Assad kian kokoh berkat dukungan militer Rusia dan Iran. Kekuasaan Damaskus saat ini melebar lewat Palmayra hingga ke Raqqa. Takluknya ISIS membuka vakum kekuasaan yang dimanfaatkan oleh serdadu pemerintah buat merebut kembali teritori yang hilang.

Bahkan Eropa perlahan harus mengakui, perang saudara ini tidak akan menamatkan riwayat rejim Assad. Saat tersudut, penguasa de facto Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman mengintip peluang lewat Presiden AS Donald Trump.

Ketika Trump berikrar bakal mengambil kebijakan garis keras terhadap Teheran, Riyadh menimpali dengan konfrontasi. AS saat ini adalah satu-satunya sekutu Saudi yang bisa mengganyang pengaruh Iran. Ironisnya kelemahan terbesar pada rencana Arab Saudi adalah Trump sendiri.
Sumber: www.pri.org dan DW