Rouhani Sebut Iran Jadi Musuh Arab Lantaran Kekalahan Saudi Di Jazirah

Foto Foxnews
Foto Foxnews

Beirut,Sayangi.com- Presiden Iran Hassan Rouhani mengatakan pada (28/11) bahwa Arab Saudi menghadirkan Iran sebagai musuh karena ingin menutupi kekalahan di wilayah tersebut.

“Arab Saudi tidak berhasil di Qatar, tidak berhasil di Irak, di Suriah dan baru-baru ini di Lebanon. Di semua area ini, mereka tidak berhasil, “kata Rouhani dalam wawancara langsung di televisi pemerintah. “Jadi mereka ingin menutupi kekalahan mereka.”

Kerajaan Muslim Sunni di Arab Saudi dan Syiah Iran kembali menjadi saingan dalam perang dan krisis politik di seluruh wilayah tersebut. Kedua negara yang telah memutusakan hubungan diplomatik ini telah terlibat perseteruan dalam berbagai krisis di Timur Tengah.

Dalam krisis Suriah, Riyadh mendukung pemberontak atau oposisi, sedangkan Teheran mendukung rezim Presiden Bashar al-Assad. Kemudian, dalam krisis Yaman, Saudi mendukung pemerintah Presiden Abed Rabbo Mansour Hadi. Sedangkan Iran dianggap mendukung pemberontak Houthi.

Ketegangan kedua negara juga memanas pada bulan ini saat Perdana Menteri Lebanon Saad al-Hariri mengumumkan pengunduran dirinya dari stasiun televisi di Riyadh.

Pangeran Mahkota Arab Saudi memanggil Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, “Hitler baru Timur Tengah” dalam sebuah wawancara dengan New York Times yang diterbitkan minggu lalu. Pernyataan tersebut tentu saja yang meningkatkan perang kata-kata antara kedua negara ini.

Dikutip dari Reutrs (29/11) Ketegangan di Jazirah memanas lagi pada bulan ini ketika Perdana Menteri Libanon Saad al-Hariri mengundurkan diri di Riyadh lewat pengumuman yang disiarkan telivisi.

Hariri mengatakan ia mengundurkan diri akibat tekanan pasukan Hizbullah yang didukung Iran di Lebanon. Dan situasi tersebut berisiko mengancam jiwanya,ungkap Hariri.Pasukan Hizbullah menolak tuduhan Hariri.

Hizbullah menyebut tindakan Hariri sebagai tindakan rekayasa oleh pihak berwenang Saudi. Hariri sendiri telah kembali ke Lebanon pekan lalu dan menunda pengunduran dirinya namun terus mengkritik Hizbullah.

Iran, Irak, Suriah dan Rusia membentuk garis perlawanan di wilayah guna menuju stabilitas dan mencapai “prestasi besar”. Hal ini dikatakan Rouhani melalui wawancara telivisi saat ia meninjau 100 hari pertamanya di jabatannya untuk masa jabatan keduanya.