Medsos Dituduh Merusak, Begini Pembelaan Facebook

San Francisco, Sayangi.Com– Facebook Inc pada Jumat (15/12) lalu memberikan tanggapan terhadap tuduhan dari sejumlah peneliti maupun kalangan industri teknologi yang mengkritik media sosial mengubah perilaku dan emosi.

Media sosial seperti Facebook, Instagram, Twitter, Snapchat dan YouTube dituduh membuat penggunanya ketagihan dan meningkatkan perilaku anti-sosial.

Studi di Amerika Serikat pada Maret lalu menyatakan penggunaan media sosial dua jam sehari berkaitan dengan perasaan isolasi sosial.

Dikutip dari Reuters, Facebook menyatakan media sosial dapat berfungsi positif jika digunakan secara aktif, misalnya mengirim pesan, daripada tindakan pasif seperti hanya melihat-lihat unggahan orang lain.

Facebook sudah mengetahui ada “riset menarik” mengenai efek buruk media sosial. Menurut perusahaan tersebut, studi tersebut “tidak menyeluruh” dan berpendapat ada penelitian yang melebih-lebihkan bahaya media sosial.

“Kami melibatkan psikolog sosial, ilmuwan sosial dan sosiolog, kami juga berkolaborasi dengan akademisi terbaik untuk memahami kesejahteraan dan berusaha membuat Facebook menjadi tempat berkontribusi hal-hal positif,” demikian bunyi unggahan yang ditulis oleh Direktur Riset Facebook, David Ginsberg dan peneliti Moira Burke.

Mantan pejabat Facebook, Chamath Palihapitiya, beberapa waktu lalu melontarkan pernyataan bahwa aplikasi tersebut “menghancurkan fungsi masyarakat”. Dalam sebuah diskusi bulan November di Graduate School of Business Stanford, Palihapitiya mengungkapkan bahwa dia merasa “bersalah yang luar biasa” atas perannya dalam memimpin sebuah perusahaan yang membantu penghancuran masyarakat.

Menanggapi komentar tersebut, Facebook menyatakan Palihapitiya sudah tidak bersama mereka selama enam tahun dan tidak memahami perbaikan yang mereka lakukan.

Palihapitiya kemudian mengubah pendapatnya, menyatakan layanan tersebut “untuk kebaikan di dunia”.