Jelang Pemungutan Suara PBB Soal Yerusalem Uni Eropa Siapkan Posisi

Foto myjac.com
Foto myjac.com

Berlin,Sayangi.com- Jerman pada hari Rabu mengulangi penolakannya terhadap keputusan A.S. untuk mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel. Jerman juga mengatakan bahwa anggota UE sedang mendiskusikan sebuah sikap bersama menjelang pemungutan suara Majelis Umum PBB.

Deputi juru bicara Kementerian Luar Negeri Jerman Rainer Breul mengatakan dalam sebuah konferensi pers di Berlin bahwa Jerman berharap negara-negara Uni Eropa akan mencapai posisi yang sama sebelum pemungutan suara pada hari Kamis.

Dilansir dari aa.com.tr (21/12),Pemerintah Jerman berkeinginan guna mencapai sebuah konsensus dan pemungutan suara UE sesuai dengan ini, seperti yang terjadi pada resolusi serupa untuk Timur Tengah. Konsultasi dan diskusi ke tujuan diatas saat ini sedang berlangsung, “ungkapnya.

Breul ingat bahwa Jerman, Prancis, Inggris, Italia dan Swedia telah mengumumkan sebuah posisi bersama pada 8 Desember, yang menyatakan penolakan mereka terhadap keputusan kontroversial Presiden AS Donald Trump.

Pernyataan bersama oleh lima negara besar Uni Eropa tersebut menggarisbawahi bahwa “status Yerusalem harus ditentukan melalui negosiasi antara Israel dan Palestina” yang mengarah pada kesepakatan status akhir.

“Ini adalah posisi tetap Anggota UE untuk permasalahan diatas. Yerusalem pada akhirnya harus menjadi ibu kota negara-negara Israel dan Palestina. Sampai saat itu, kami tidak mengakui kedaulatan atas Yerusalem,” mereka menekankan.

Pada hari Kamis, Majelis Umum PBB akan mengadakan sebuah sesi pertemuan darurat mengenai keputusan Trump pada 6 Desember untuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan memindahkan Kedutaan Besar Washington dari Tel Aviv ke Yerusalem.

A.S. memveto resolusi Dewan Keamanan PBB pada hari Senin yang menolak pendirian fasilitas diplomatik di kota yang diperebutkan di Yerusalem. A.S telah melanggar seluruh anggota dewan tersebut.

Empat belas anggota dewan memilih mendukung resolusi yang didukung Mesir dan menuntut Trump meninjau kembali keputusannya.

Status Jerusalem telah lama dianggap sebagai isu status akhir yang harus ditentukan oleh perundingan damai Israel-Palestina. Dan keputusan Trump secara luas dipandang sebagai penghalang proses perdamaian yang telah lama disepakati.

Yerusalem Timur, yang menjadi ibukota Palestina di masa depan, diduduki dan direbut Israel sejak 1967.