Waspadalah! Uang Virtual Rawan Penyalahgunaan

Ilustrasi uang virtual Bitcoin. Foto Daily Mail
Ilustrasi uang virtual Bitcoin. Foto Daily Mail

Jakarta,Sayangi.com- Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) menganggap perkembangan uang virtual termasuk Bitcoin berpotensi sebagai pencucian uang maupun pendanaan terorisme. .

Dalam keterangan resminya, Jumat (16/2/2018), PPATK sebagai lembaga intelijen keuangan, lembaga ini memiliki perhatian dan prioritas terhadap penelusuran transaksi yang diduga terkait dengan tindak pidana pencucian uang dan tindak pidana pendanaan terorisme dengan memanfaatkan uang virtual termasuk Bitcoin.

Untuk itu, PPATK telah membentuk desk teknologi finansial (financial technology/fintech) dan cyber crime. SelainĀ itu PPATKĀ telah meningkatkan kerja sama dengan anggota Komite Koordinasi Nasional Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU). Lembaga keuangan PPATK juga akan bekerjasama dengan lembaga bank lainnya lainnya yakni Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Kementerian Perdagangan (Kemendag).

PPATK pun mendukung kebijakan BI selaku otoritas sistem pembayaran yang berwenang untuk mengeluarkan kebijakan larangan penggunaan uang virtual dalam pemrosesan transaksi pembayaran. Hal itu sebagaimana diatur dalam Pasal 34 Peraturan Bank Indonesia (PBI) Nomor 18/40/PBI/2016 tentang Penyelenggaraan Pemrosesan Transaksi Pembayaran dan Pasal 8 ayat (2) PBI Nomor 19/12/PBI/2017 tentang Penyelenggaraan Teknologi Finansial.

Langkah bank sentral BI untuk melaksanakan kewenangan sesuai dengan UU dinilai sebagai upaya yang progresif dari perspektif pencegahan tindak pidana pencucian uang dan pendanaan terorisme. Meskipun dapat ditelusuri, tapi perlu usaha keras untuk mendeteksi identitas diri, sumber dana dan tujuan transaksi dengan menggunakan uang virtual.

Oleh karenanya PPATK selaku otoritas di bidang pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang dan tindak pidana pendanaan terorisme mengimbau kepada masyarakat agar lebih bijak dalam memanfaatkan uang virtual. Ini termasuk penggunaan Bitcoin dan sejenisnya sebagai aset digital, khususnya dalam rangka investasi (speculative investment purposes), tulis PPATK.