TKI Yang Dituduh Bunuh Kim Jong Nam ‘Dibayar Untuk Terbang ke Macau

Siti Aisyah TKI Indonesia yang dituduh membunuh Kim Jong Nam. Foto DNA India
Siti Aisyah TKI Indonesia yang dituduh membunuh Kim Jong Nam. Foto DNA India

Kuala Lumpur,Sayangi.com- Sidang Siti Aisyah TKI yang dituduh meracuni saudara laki-laki pemimpin Korea Utara, Kim Jong Nam, di sebuah bandara di Malaysia mengungkap fakta baru. Beberapa hari sebelum Nam terbunuh ia telah dibayar untuk terbang ke Macau tempat pengasingan Nam sebelum pembunuhan terjadi,di bandara Sepang Kuala Lumpur.

Fakta baru diatas disebutkan oleh pengacaranya di pengadilan pada Kamis (23/2). Siti Aisyah bersama Doan Thi Huong wanita asal Vietnam dituduh membunuh Kim Jong-nam dengan racun VX di bandara Kuala Lumpur, Malaysia, 13 Februari tahun lalu.

Pengacara pembela kedua wanita ini mengungkapkan bahwa kedua wanita tersebut mengira mereka bermain pranks (adegan lelucon) untuk reality show TV.

Keduanya telah dibayar untuk bermain adegan lelucon serupa di mal dan bandara di tempat lain dalam minggu-minggu sebelum pembunuhan tersebut. Namun mereka tidak tahu bahwa mereka membunuh Kim dengan meracuni. Apabila terbukti bersalah Siyi dan Doan menghadapi hukuman mati.

Pada 8 Februari tahun lalu, Siti Aisyah diberi 4.000 ringgit setara Rp. 13.500 oleh Hong Song Hac seorang Korea Utara, untuk membeli tiket ke Macau sehingga dia bisa bermain pranks untuk acara TV realitas.
Tapi pada hari kejadian Hong meneleponnya untuk memberitahunya bahwa perjalanannya ditunda ungkap pengacara pembela pengacara Siti, Gooi Soon Seng. Gooi tidak menyatakan alasan Hong mmembatalkan perjalannan Siti ke Macau. Macau, sebuah wilayah administratif khusus di China yang berbatasan dengan Hong Kong.

Penyidik ​​utama polisi Wan Azirul Nizam Che Wan Aziz tidak dapat mengkonfirmasi pengakuan Gooi. Azirul mengatakan pesan teks yang disita dari ponsel Siti Aisyah pada 8 Februari menunjukkan bahwa dia memberi tahu seorang teman bahwa dia akan pergi ke Macau untuk syuting”.

Dari catatan telepon yang ditemukan penyidik Siti menerima panggilan tak terjawab dari Hong. Gooi berpendapat pembunuhan tersebut bermotif politik. Hal ini mengacu dengan banyaknya tersangka utama terkait dengan kedutaan Korea Utara di Kuala Lumpur.

Gooi bersikeras bahwa kliennya hanyalah seorang pion tanpa disadari diperalat untuk melakukan serangan terhadap korban.

Dalam persidangan kemarin Siti Aisyah mengatakan kepada polisi bahwa dia diperkenalkan ke Hong pada 21 Januari 2017 di Kamboja oleh seorang pria Korea Utara bernama Ri Ji U, yang sebelumnya mempekerjakannya ditinya untuk sebuah pertunjukan lelucon.

Dilansir dari Reuter (23/2) Siti mengatakan kepada polisi bahwa dia bermain tiga adegan lelucon di bandara Phnom Penh sebelum terbang ke Jakarta dan kemudian kembali ke Malaysia pada awal Februari, kata Wan Azirul.

Di Kuala Lumpur, dia bermain 14 pranks. Adegan tersebut akan dibuat di bandara, hotel, pusat perbelanjaan dan stasiun kereta antara 5 Januari dan 12 Februari. Untuk peran di acara lelucon tersebut ia dibayar antara $ 100 sampai $ 600 untuk setiap sesi, ungkapnya.

Wan Azirul tidak bisa memastikan pranks terjadi, karena tidak ada rekaman video dan saksi. Gooi mengatakan postingang di akun Facebook dan pesan teks di walll FB Siti Aisyah yang dishare kepada teman temannya menguatkan pembelaannya tentang kejadian tersebut.

Polisi menunjuk Ri dan Hong sebagai tersangka dalam kasus tersebut. Hong termasuk di antara empat warga Korea Utara yang dituduh melakukan pembunuhan dan yang tertangkap basah di rekaman CCTV bandara yang melarikan diri dari negara tersebut pada hari serangan tersebut.