Abaikan PM Merkel, Mendagri Jerman Tegaskan Islam Bukan Bagian dari Jerman

Horst Seehofer Menteri Dalam Negeri Jerman dan Pm Jerman Angela Merkel. Foto DW
Horst Seehofer Menteri Dalam Negeri Jerman dan Pm Jerman Angela Merkel. Foto DW

Berlin,Sayangi.com- Horst Seehofer Menteri Dalam Negeri Jerman Horst Seehofer kembali menegaskan pandangannya bahwa Islam bukan bagian dari Negara Jerman. Ungkapannya mengabaikan Kanselir Jerman Angela Merkel yang menentang argumennya tentang Islam.

Merkel telah menunjuk Seehofer, yang memimpin sekutu Bavaria-nya, sebagai menteri dalam negeri di bawah kesepakatan koalisi pada awal bulan ini. Tetapi seminggu kemudian, Seehofer menyatakan telah menekan koalisi besar yang rapuh.

Dilansir dari t online.de (24/3), Seehofer mengungkapkan ”Saya tidak akan mengubah (pandangan) politik saya,”. Lewat majalah der Spiegel Seehofer mengaku sangat terganggu oleh sikap Merkel yang menentangnya.

Seminggu yang lalu, Seehofer mengatakan kepada harian Bild bahwa Islam bukan bagian dari Jerman. Pernyataan yang sensitif itu mendorong Merkel untuk bereaksi cepat dengan menentang sekutu politiknya tersebut.”Islam telah menjadi bagian dari Jerman,” kata Merkel mematahkan pandangan Seehofer.

Betapa tidak Jerman adalah rumah bagi sekitar 4 juta Muslim, termasuk banyak orang Turki yang telah tinggal di sana selama beberapa dekade. Selain keturunan Tyrki banyak migran dan pencari suaka yang tiba dalam beberapa tahun terakhir. Kebanyakan migran dan pencari suaka berasal dari Suriah, Irak dan negara lain yang dilanda konflik.

Seehofer, yang memimpin partai Persatuan Sosial Kristen (CSU)—sekutu dari Partai Demokrat Kristen Merkel (CDU) yang merupakan partai pendukung Merkel. Partai CSU telah lama menjadi duri di dalam pemerintahan Kanselir Merkel. Seehofer sendiri sejak lama terkenal sebagai penentang kebijakan imigrasi dan keberadaan migran di Jerman.

Dalam pidato pertamanya kepada parlemen sebagai menteri dalam negeri, Seehofer pada hari Jumat (23/3/2018) menjanjikan pendekatan tanpa toleransi baik terhadap perbatasan maupun untuk untuk membenci kejahatan yang dilakukan terhadap orang-orang dari keyakinan lain.

Seehofer juga menyebut bahwa militan Islamis mengancam keamanan nasional. Dia juga menyerukan kontrol perbatasan antara negara-negara tetangga Uni Eropa.

Seehofer, yang selama krisis pengungsi sejak tahun 2015 berulang kali mengkritik kebijakan “pintu terbuka” Merkel bagi pencari suaka. Dia menegaskan kembali rencananya untuk menghentikan kedatangan migran dan memfasilitasi deportasi bagi mereka yang tidak berhak tinggal di Jerman.