Ratusan Ribu Warga AS Turun ke Jalan Tuntut Pengetatan Senjata Api

Ratusan ribu warga AS memadati jalan utama di Washington DC, pada Sabtu (24/3), dalam unjuk rasa bertajuk "March for Our Lives"/AFP

Washington, Sayangi.Com– Gerakan menuntut pengetatan kepemilikan senjata api di Amerika Serikat (AS) terus meningkat.

Di Washington DC dan sejumlah kota-kota utama di AS, pada Sabtu (24/3), ratusan ribu warga turun ke jalan dalam pawai bertajuk The March For Our Lives’ atau Pawai untuk Hidup Kami, menyerukan pengetatan aturan kepemilikan senjata dan menjamin keselamatan anak di sekolah.

Gelombang unjuk rasa di akhir pekan yang mayoritas diikuti pelajar ini merupakan puncak protes penembakan di SMU Florida pada Februari lalu yang menewaskan 17 orang, dan beberapa peristiwa penembakan lain yang terjadi sebelumnya.

Sebagian peserta aksi menyatakan perlawanan terhadap National Rifle Association (NRA), kelompok lobi pro-senjata yang sangat berpengaruh dalam politik di AS. Sedangkan para aktivis dari kalangan siswa menuntut agar nyawa anak-anak dijadikan prioritas oleh negara. Mereka juga menuntut diakhirinya aksi penembakan di sekolah-sekolah.

Di Washington DC, kerumunan massa yang sebagian besar merupakan remaja dan anak-anak, berkumpul di sepanjang Pennsylvania Avenue sembari membawa beragam poster bertuliskan “Lindungi anak-anak, bukan senjata api’ serta ‘Apakah saya berikutnya?’

Demonstrasi diisi dengan orasi yang diselingi penampilan beberapa penyanyi, seperti Ariana Grande dan Miley Cyrus. Orasi pemimpin pelajar sekaligus penyintas penembakan di Parkland, Emma Gonzalez, mendorong para hadirin berlinang air mata.

Setelah menyebutkan nama-nama korban penembakan, dia berdiam diri di panggung yang didirikan di depan gedung Kongres AS selama enam menit dan 20 detik‚ÄĒdurasi penembakan di Parkland.

“Kami akan terus berjuang demi teman-teman kami yang meninggal dunia,” kata Delaney Tarr, pelajar SMA di Parkland yang turut berorasi.

Seorang ayah memeluk putri ciliknya dalam pawai menuntut pengetatan senjata api di AS/AFP

Aksi itu diikuti anak-anak sekolah. Di antaranya adalah Naomi Wadler, pelajar berusia 11 tahun dari Virginia. Dia mengaku ikut demonstrasi “untuk mewakili para bocah Afrika-Amerika yang kisahnya tidak masuk tajuk utama surat kabar.”

Bagaimana protes bermula?

Aksi protes ini mengemuka setelah 17 orang tewas dalam penembakan di sebuah sekolah menengah atas di Parkland, Florida, bulan lalu.

Setelah kejadian, para penyintas menggelar demonstrasi menuntut pengetatan kepemilikan senjata api yang kemudian memicu gelombang aksi serupa di kota-kota lain.

Pada 14 Maret lalu, misalnya, sejumlah pelajar dan karyawan sekolah di berbagai kota di Amerika Serikat menghentikan sementara kegiatan belajar-mengajar untuk menuntut reformasi kepemilikan senjata api.

Akhir pekan ini lebih dari 800 demonstrasi sejenis akan diadakan di Amerika Serikat dan kota-kota lain di dunia, termasuk Edinburgh, London, Jenewa, Sydney, dan Tokyo.

Seberapa besar sokongan kepada para demonstran?

Meskipun demonstrasi reformasi kepemilikan senjata api mampu mendatangkan ratusan ribu simpatisan, topik ini masih membelah AS.

Hak memiliki senjata dilindungi Amandemen Kedua Konstitusi AS dan kelompok lobi prosenjata National Rifle Association (NRA) masih snagat berpengaruh.

Pada Sabtu (24/3) sore Gedung Putih merilis pernyataan yang memuji “banyak anak muda pemberani AS menggunakan hak Amandemen Pertama hari ini”.

Gedung Putih juga menegaskan telah melakukan sejumlah langkah untuk menangani kekerasan bersenjata. Antara lain, melarang penggunaan bump stock (perangkat yang meningkatkan kemampuan senapan semiotomatis), membentuk kesepakatan STOP kekerasan di sekolah, serta meningkatkan pelatihan untuk pelajar, sekolah, dan aparat keamanan setempat.

Meski demikian para demonstran kecewa bahwa Presiden Donald Trump, yang berada di resor Mar-a-Lago di Florida selama akhir pekan ini, tidak merilis satu cuitan pun yang mendukung demonstrasi.

Kepemilikan senjata di Amerika dilindungi amandemen kedua Konstitusi. Presiden Trump sempat mengutarakan niat untuk meningkatkan batas usia kepemilikan senjata dari 18 ke 21 tahun dan memperketat pengecekan latar belakang. Namun dalam proposal pengamanan sekolah dari serangan bersenjata, Gedung Putih menyerahkannya kepada negara bagian masing-masing.

Langkah pasca insiden penembakan di Parkland

Negara Bagian Florida meloloskan undang-undang pengendalian senjata yang meningkatkan batas usia calon pembeli senjata. UU itu juga memberi wewenang kepada staf sekolah untuk membawa senjata api.

Setelah insiden di Parkland, sejumlah perusahaan besar memutus hubungan dengan NRA di tengah kemunculan tagar #BoycottNRA di media sosial. Kemudian Walmart dan Dick’s Sporting Goods mengumumkan batas-batas baru bagi pembelian senjata api.

Berdasarkan jajak pendapat yang dilakukan Associated Press dan the NORC Center for Public Affairs Research, sebanyak 69% warga Amerika menghendaki undang-undang yang mengatur senjata api harus diperketat. Persentase itu meningkat dari Oktober 2016, sebanyak 61%.

Sumber: VOA/BBCIndonesia