Pemimpin PBB Ungkap Ketegangan AS-Rusia Mirip Era Perang Dingin

Sekjen PBB Antonio Guterres. Foto UN News
Sekjen PBB Antonio Guterres. Foto UN News

New York,Sayangi.com – Pemimpin PBB, Antonio Guterres mengingatkan panasnya hubungan Rusia dan Amerika Serikat (AS) yang semakin memburuk mirip dengan Perang Dingin. Gutteres menyerukan agar kedua negara adidaya ini tetap menjaga batasan agar eskalasi tidak meningkat.

Beberapa hari setelah AS mengumumkan akan mengusir 12 diplomat Rusia atas serangan zat saraf di Inggris, Guterres menyerukan Washington dan Moskow agar membangun kembali jalur komunikasi yang ditujukan untuk mencegah meningkatnya ketegangan.

“Selama Perang Dingin ada mekanisme komunikasi dan kontrol untuk menghindari insiden eskalasi. Komunikasi tersebut guna memastikan bahwa semuanya tidak akan lepas kontrol ketika ketegangan akan meningkat. Namun Mekanisme tersebut kini telah dibongkar,” kata Guterres,dilansir dari Reuters (30/3)

“Saya percaya ini adalah waktu untuk tindakan pencegahan semacam ini, menjamin komunikasi yang efektif. Kedua negara tersebut harus menjamin kapasitas untuk mencegah eskalasi. Saya percaya bahwa mekanisme semacam ini diperlukan lagi,” imbuh Guterres.

Meski begitu, menurut Guterres ada perbedaan kunci antara situasi sekarang dengan era Perang Dingin. “Sekarang ada banyak aktor lain yang relatif independen dan dengan peran penting dalam banyak konflik yang kita saksikan, dengan risiko eskalasi yang kita kenal baik,” katanya.

Perang Dingin, yang berlangsung sekitar empat dekade setelah Perang Dunia II, ditandai oleh ketegangan geopolitik antara AS dan sekutu Baratnya di satu sisi. Dan kekuatan lain dikomandoi Uni Soviet bersama negara-negara blok timur lainnya.

AS pada hari Senin mengatakan akan mengusir 60 diplomat Rusia, termasuk 12 yang diposisikan ke misi PBB di New York. AS bergabung dengan pemerintah di seluruh Eropa dalam menghukum Moskow karena serangan zat saraf terhadap mata-mata Rusia di negara Inggris.

Dan Rusia membantah terlibat dalam serangan 4 Maret lalu dan mengumumkan bahwa mereka akan mengusir 60 diplomat serta menutup konsulat AS di St. Petersburg.

Washington dan Moskow telah terlibat bentrok terkait aneksasi Rusia atas Crimea di Ukraina. Serta perang di Suriah dan tuduhan campur tangan Rusia dalam pemilihan presiden AS tahun 2016 lalu.

Rusia juga khawatir bahwa Presiden AS Donald Trump merencanakan tindakan militer terhadap pemerintah Suriah atas tuduhan penggunaan senjata kimia selama konflik yang berkepanjangan di negara itu.

Duta Besar AS untuk PBB, Nikki Haley mengatakan, Washington tetap siap siaga untuk bertindak jika memang harus. Seperti yang terjadi sebelumnya pada April tahun lalu AS membom sebuah pangkalan udara pemerintah Suriah yang AS sebut digunakan untuk meluncurkan serangan gas beracun mematikan.