Ekonom Dunia Bersuara Terkait Perang Dagang AS-China

Para Ekonom Dunia menghadiri seminar Ambrosetti Spring pada 6-7 April 2018 di Italia.Foto Getty Image
Para Ekonom Dunia menghadiri seminar Ambrosetti Spring pada 6-7 April 2018 di Italia.Foto Getty Image

Washington,Sayangi.com– Tidak ada yang menyukai perang dagang hingga Presiden AS Donald Trump mulai memenangkan dukungan dari Eropa dan pebisnis elit global. Trump telah karena menempatkan praktik perdagangan China ke atas panggung.

Seminar Ambrosetti Spring pada 6-7 April 2018 di Italia, yang dihadiri oleh para investor dan ekonom Dunia menyuarakan kekhawatiran terhadap ancam-mengancam  antar Beijing dan Washington.

Dilansir dari pressreader, Senin (9/4/2018),keluhan Trump yang menyatakan China telah melakukan praktik perdagangan yang tidak adil mendapat dukungan dari sebagian peserta seminar tersebut

Davide Serra, Direktur Utama Algebris Investments menyebutkan “Tarif impor untuk mobil adalah 2,5% di AS, 10% di Eropa, dan 25% di China. Jadi, siapa sebenarnya penipu di sini?” ungkapnya.

Terkait isu diatas China telah bersumpah pada Jumat (6/4/2018) untuk membalas tarif AS hingga akhir. Pernyataan itu dikeluarkan Beijing setelah Presiden AS Donald Trump menyerukan administrasinya. Para Admin Trump diminta untuk mempertimbangkan pemberian tarif tambahan sebesar US$100 miliar untuk produk impor asal Tiongkok.

Sebelumnya, Anggota Eksekutif Dewan Gubernur ECB Benoit Coeure telah memperingatkan lewat skenario yang di dalamnya AS dan mitra dagangnya saling membalas tarif sebesar 10% untuk produk impor. Hasilnya adalah dampak negatif bagi perekonomian global dan merugikan AS dengan potongan 2,5% pertumbuhan Negeri Paman Sam di awal tahun.

Tindakan kedua negara tersebut membuat Direktur JPMorgan Chase International, Jacob Frenkel bersuara. Ia menyatakan “Saham China di dalam output dunia sangat besar dan harus diperhatikan karena ketidakpastian dari negara itu bisa berdampak bagi seluruh dunia.

Tak ketinggalan Heiner Flassbeck, profesor ternama di Hamburg University dan mantan pejabat pemerintahan Jerman,juga ikut bersuara. Ia menyebutkan bahwa Eropa harus meningkatkan kekuatannya. Ini artinya ditengah situasi ini Eropa akan menjadi penengah

Flassbeck menambahkan “Setidaknya Trump memiliki poin bagus, karena diantara negara-negara yang memiliki surplus perdagangan dengan AS (termasuk Jerman) dan ini tidak normal untuk perdagangan bebas,” ujarnya.

Valdis Dombrovskise Wakil Kepala Komisi Uni Eropa, berpendapat perselisihan perdagangan antara Beijing dan Washington harus diselesaikan. Baik penyelesaian di di level multirateral atau jutsru secara bilateral. “Jika ada perselisihan perdagangan, dan akan selalu ada, selesaikan dengan Organisasi Dagang Dunia (WTO),” himbaunya.

Sebenarnya, satu sama lain antara AS dan China telah berulang kali mengajukan keluhan ke WTO. Keluhan yang berlaku di kedua raksasa ini mencatat lebih terucap dibanding negara-negara lain. Dari catatan yang ada sejak China bergabung dengan WTO pada 2001, telah memasukkan 11 keluhan terhadap Washington. Sebaliknya negara Paman Sam ini telah membuat 22 keluhan.

Rajiv Biswas, kepala ekonom Asia-Pasific di IHS Markit Ltd, Singapura. menyebutkan “Presiden Trump telah bermain sulit dengan menekan China menuju meja perundingan WTO. Negara AS mengungkapkan untuk membicarakan kesepakatan lisensi teknologi AS di China. Apabila kesepakatan lewat perundingan WTO, dapat tercapai antara AS dan China sangat mungkin proposal tarif sebesar US$100 miliar tidak akan diimplementasikan.