Kremlin Meradang,Rusia Gugat Telegram

CEO dan Pendiri Telegram Pavel Durov. Foto standard uk
CEO dan Pendiri Telegram Pavel Durov. Foto standard uk

Moskow,Sayangi.com- Badan Pengawas Komunikasi Rusia mengatakan, Kremlin telah mengajukan gugatan pembatasan akses aplikasi Telegram. Menurut Moskow Telegram menolak memberikan akses layanan keamanan Rusia terhadap pesan rahasia penggunanya.

BBC hari Jumat pekan lalu menuliskan Telegram berhasil menempati posisi kesembilan sebagai aplikasi seluler paling populer di dunia. Bahkan pengguna aktif Telegram di negara-negara bekas Uni Soviet dan Timur Tengah mencapai 200 juta pada Maret tahun 2018.

Aplikasi Telegram mempunyai keistimewaannya dibanding aplikasi lain. Telegram memungkinkan pengguna untuk berkomunikasi melalui pesan terenkripsi. Pesan yang ditulis tak bisa dibaca oleh pihak ketiga, termasuk otoritas pemerintah.

Namun, layanan Keamanan Federal FSB Rusia mengatakan, mereka memerlukan akses ke beberapa pesan untuk pekerjaannya.

Hal tersebut dilakukan juga untuk berjaga-jaga dari serangan teroris. Telegram kemudian menolak memenuhi tuntutan tersebut dengan alasan untuk menghormati privasi pengguna.

Badan Pengawas komunikasi Rusia, Roskomnadzor mengatakan, mereka telah mengajukan gugatan di pengadilan Moskow dengan permintaan untuk membatasi akses di wilayah Rusia ke sumber informasi. Akses tersebut terkenal dengan sebutan Telegram Messenger Limited Liability Partnership.

Telegram menawarkan layanan pesan terenkripsi yang memungkinkan pengguna untuk berkomunikasi tanpa catatan di server perusahaan sendiri. Percakapan rahasianya menggunakan enkripsi end-to-end.

Telegram memungkinkan pengguna mengatur waktu untuk menghancurkan pesan yang berkisar dari dua detik hingga satu minggu. Ini artinya, pengirim dan penerima pesan sendiri tidak bisa melihat percakapan lama mereka.
Aplikasi ini dibangun oleh pakar-pakar sosial media Rusia yaitu Durov bersaudara.

Alasan nomor satu saya mendukung dan membantu peluncuran Telegram adalah untuk membangun sarana komunikasi yang tidak dapat diakses oleh badan keamanan Rusia, jadi saya dapat membicarakannya berjam-jam,” Pavel Durov mengatakan kepada Techcrunch pada 2014 lalu.

Durov telah berhadapan dengan pemerintah Rusia jauh sebelum membangun Telegram. Dia pertama kali terkenal sebagai pendiri situs media sosial terpopuler di Rusia, VKontakte, sampai dia harus meninggalkan perusahaan pada 2014.

Dilansir dari chinadaily Selasa (10/4) sebelum meninggalkannya medsos yang ia besut, Durov telah memicu kemarahan aparat. Ini lantaran ia menolak untuk menutup beberapa grup VKontakte yang mempromosikan demonstrasi anti-Putin pada 2012. Setelah penjualan saham dan pemecatannya sebagai CEO pada 2014, Durov diketahui meninggalkan Rusia.

Durov memprotes perusahaan yang sepenuhnya berada di bawah kendali salah satu sekutu terdekat Putin, Igor Sechin, dan tokoh internet Alisher Usmanov.

Selain hal diatas, gugatan yang diajukan Moskow juga terkait dengan pertanyaan FSB yang mengatakan Telegram tidak mematuhi kewajiban hukumnya sebagai penyelenggara distribusi informasi. Saat dimintai keterangan oleh awak media Juru Bicara Telegram tidak segera menanggapi permintaan untuk berkomentar.

Pendiri sekaligus CEO Telegram, Pavel Durov melalui akun Twitter-nya mengatakan, ancaman untuk memblokir Telegram tidak akan berhasil. Telegram akan tetap berdiri untuk kebebasan dengan menjaga privasi para penggunanya.