Dosen Fakultas Teknik ITB Ciptakan Alat Deteksi Petir

Foto Trubus
Foto Trubus

Bandung,Sayangi.com- Indonesia merupakan salah satu negara tropis dengan tingkat kejadian petir yang cukup tinggi. Hal ini mendorong Dr Ir Syarif Hidayat, melakukan riset dan membuat inovasi alat deteksi peringatan dini petir yang disebut Early Warning Lighting Detection

Syarif merupakan lektor kepala di Kelompok Keahlian Teknik Ketenagalistrikan Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) Institut Teknologi Bandung (ITB). Ia  menyebutkan ide pembuatan alat pendeteksi petir ini, berangkat dari minimnya pendeteksi petir di Indonesia. Padahal negara  Indonesia rawan gempa namun tidak didukung berbagai infrastruktur dan teknologi untuk mengantisipasinya.

“Sebenarnya bangsa Indonesia juga memiliki pakar ahli petir, karena kerapatan petir di Indonesia tertinggi sampai 24 sambaran per kilometer persegi per tahun. Dari catatan BMKG menyebutkan daerah Bogor, mempunyai 10 kali lipat lebih banyak dibandingkan dengan Jepang, dan dua kali lipat lebih banyak dibandingkan dengan Florida, Amerika.

Untuk kawasan Bandung, Syarif menyatakan ada sekitar 12 sambaran per kilometer persegi per tahun,” tulisnya dalam siaran pers dari ITB, Jumat (13/4).

Ia menuturkan, cara kerja Early Warning Lighting Detection yang diciptakannya terdiri dari dua bagian utama, yaitu sensor dan prosesor. Sensor dengan diameter 20 cm dan tinggi 15 cm, diletakkan di atas tiang dengan minimal ketinggian satu meter dengan jarak minimal tiga kali dari ketinggian bangunan terdekatnya.

Sedangkan prosesor dari alat pendeteksi petir ini berupa personal komputer yang dihubungkan dengan sensor melalui kabel data dan diberi daya sebesar 10 watt.

Prinsip kerja dari alat ini, ungkapnya, dengan mendeteksi aktivitas medan elektrostatik di awan dengan radius dua kilometer. Berdasarkan prinsip tersebut, sebuah perangkat yang disebut electric field mill monitor, dapat memberikan prediksi mengenai sejauh mana aktivitas pemisahan muatan tersebut terjadi, sehingga dapat memberikan peringatan dini sebelum petir benar-benar terjadi.

Terdapat empat tahapan peringatan yang dapat diberikan oleh Early Warning Lighting Detection. Tahapan pertama ketika sudah terdeteksi adanya aktivitas pemisahan muatan di awan, artinya harus mulai waspada akan potensi terjadinya petir.

“Kemudian tahap kedua, diberikan ketika mulai terjadi pelepasan muatan sebelum petir turun ke bumi. Selanjutnya di tahap ketiga, terakhir, ketika petir sudah turun ke bumi. Tahap terakhir akan diberikan ketika sudah tidak terjadi aktivitas baik pemisahan maupun lepasnya muatan pada awan, sehingga masyarakat dapat melanjutkan aktivitas tanpa harus ditakutkan dengan terjadinya petir susulan yang tidak diduga,” tuturnya.

Dia mengatakan, seharusnya peringatan maksimum diberikan pada dua tahapan pertama, sehingga daerah yang harus dilindungi sudah harus dikosongkan. Daerah yang cocok untuk Early Warning Lighting Detection ini adalah daerah-daerah tempat dilaksanakannya kegiatan outdoor seperti lapangan golf, daerah pertambangan, pertanian, rekreasi dan lain-lain yang merupakan daerah terbuka, ujarnya.

Dilansir dari itb.ac.id Sabtu (14/4)  Early Warning Lightning Detection besutan ITB sedang dalam proses mendapatkan hak paten. Selain perangkat lunak assesment bahaya petir yang juga besutan ITB juga sedang dalam proses mendapatkan hak cipta.