Diskusi PGK: Mahasiswa Dorong Wacana Demokrasi Substantif Jelang Pemilu

Suasana diskusi Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (PGK) bertajuk "Peranan Pemuda dan Mahasiswa dalam Menghadapi Pemilu Serentak 2019" di Resto Pempekita Tebet Jakarta, Selasa (17/4). (Foto: Sayangi.com/Tri Setyo)

Jakarta, Sayangi.com – Pemilu 2019 hendaknya menjadi pemilu yang menerapkan demokrasi secara substantatif, tidak terjebak dalam demokrasi prosedural, serta perlu mengoptimalkan peran generasi muda sebagai penerus perjuangan bangsa.

Demikian harapan yang mengemuka dalam diskusi yang diselenggarakan Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (PGK) bertajuk “Peranan Pemuda dan Mahasiswa dalam Menghadapi Pemilu Serentak 2019” di Resto Pempekita Tebet Jakarta, Selasa (17/4).

Diskusi yang diinisasi Ketua Umum DPP PGK Bursah Zarnubi ini menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan pemuda dan mahasiswa yaitu aktivis Perludem Dika, Kabid Sospol PB HMI Azis, Sekjen PP KAMMI Phirman Reza, Ketua Dema UIN Jakarta Ahmad Nabil Bintang dan Ketua BEM UMJ Rahmat Syarif.

Ketua Umum PGK Bursah Zarnubi yang memberikan pengarahan dalam pengantar diskusi mengatakan, pemuda dan mahasiswa perlu berperan aktif dalam mencerahkan masyarakat, khususnya tentang pentingnya Pemilu.

“Kenapa kita panggil anak muda? Karena mereka yang akan menerima tongkat estafet kepemimpinan. Mereka, anak muda ini idealis, tugas anak muda mengkritik orang tua ini,” ujar Bursah di Jakarta, Selasa (17/4).

Para narasumber berfoto bersama usai diskusi Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (PGK) bertajuk “Peranan Pemuda dan Mahasiswa dalam Menghadapi Pemilu Serentak 2019” di Resto Pempekita Tebet Jakarta, Selasa (17/4). (Foto: Sayangi.com/Tri Setyo)

Aktivis Perludem yang juga turut hadir, Dika mengatakan, sebaiknya pemuda jangan mau hanya dijadikan obyek politik saja. Namun untuk menjadi subyek politik, pemuda juga menemui banyak kendala.

Selain itu, kata Dika, stigma pemuda terhadap partai politik di Indonesia juga masih cenderung negatif. Sedangkan untuk membuat Parpol baru, pemuda juga menemui banyak kendala.

“Menurut saya dimudahin aja buat Parpol, sehingga pemuda dapat membuat parpol dengan ideologi mudanya. Jangan hanya anak muda jadi peraup suara saja,” katanya.

Sedangkan Sekjen PP KAMMI Phirman Reza berharap, Pemilu serentak 2019 dapat dijadikan pesta demokrasi yang sesungguhnya. Jangan Pemilu serentak mendatang justru dijadikan seram dan mencekam.

“Kita anak muda kita memandang optimis, akan banyak peran yang kita ambil di masa depan. Sebenarnya ada optimisme, beberapa partai unik telah muncul dalam konsep baru. Ini hal yang baru, ini ada optimisme, keterlibatan anak muda semakin nyata,” paparnya.

Phirman juga menuturkan, KAMMI memandang Pemilu 2019 merupakan momen transisi. Di usia reformasi yang baru berusia 21 tahun, loncatan keterlibatan anak muda sudah termasuk besar.

“Ada loncatan keterlibatan anak muda dalam gaya komunikasi partai sekarang. Selain itu, lahir sayap-sayap organisasi partai untuk pemuda. Kita coba membaca, melihat babak baru transisi demokrasi di Pemilu serentak 2019 mendatang,” katanya.

Dikatakan Phirman, pemuda setidaknya harus mengawal tiga proses dalam Pemilu 2019. Yakni mengawal kampanye, mengawal peserta Pemilu dan menurunkan angka golput pemuda, yang saat ini masih cukup tinggi.

“Kita coba ambil peran alternatif dalam pesta demokrasi ini. Kita jangan lagi jadi penonton pasif, tapi pemain aktif,” katanya.

Selain itu, Ketua BEM UMJ Rahmat Syarif mengatakan, saat ini pemuda lebih baik bergerak membangun kesadaran masyarakat di akar rumput. Kritis menurutnya tetap perlu, namun sewajarnya saja sesuai konstitusi.

“Semua harus bersinergi, Pemilu 2019 harus menjadi pesta demokrasi yang substansial. Penting 2019 secara keseluruhan saling bergerak memberi pendidikan ke masyarakat, agar pas Pemilu hadir ke TPS,” kata Rahmat.

Demokrasi, kata Rahmat, harus membawa manfaat dan kebaikan bagi semua. Sehingga keterlibatan seluruh stakeholders perlu dimaksimalkan.

“Jangan sampai pemuda hanya dimanfaatkan elit politik. Pemilu harus ada pencapaian dan gagasan substansial,” tegasnya.

Di tempat yang sama, Ketua Dema UIN Jakarta Ahmad Nabil Bintang mengaku, penyebaran hoax dan money politic tidak mudah diberantas pada Pemilu 2019 mendatang. Oleh karenanya, peran dan kesadaran pemuda tentang hoax dan money politik harus digalakkan.

Selain itu, lanjut Ahmad, isu agama sangat empuk untuk dimainkan di perpolitikan Indonesia. Oleh karena itu, ia berharap, jangan sampai pasca Pemilu 2019, Indonesia justru terpecah belah.

“Jangan sampai pasca Pemilu 2019, justru perpecahan menutupi simfoni kebersamaan kita. Langit Indonesia ini luas, jangan sampai dikotak-kotakkan,” tegasnya.

Lebih jauh Kabid Sospol PB HMI Azis berharap, pemuda dapat menentukan langkah dalam Pemilu 2019 mendatang. Pemuda dan mahasiswa harus dapat menjadi pemeran utama, dalam meningkatkan pemilih pemula dalam Pemilu serentak.

“Ini harus kita lakukan agar 2019 lebih baik. Saat ini kita punya waktu satu tahun untuk menonjolkan peran itu,” katanya.