Martin Berujar AS Akan Menyesal Jika Tarik Pasukannya dari Suriah

James Martiss Menteri Pertahanan Amerika Serikat.Foto Nationalreview
James Martiss Menteri Pertahanan Amerika Serikat.Foto Nationalreview

Washington,Sayangi.com- Presiden AS Donald Trump pada hari Selasa mengatakan ia ingin menarik pasukan Amerika dari Suriah segera. Tetapi Trump juga menegaskan keinginannya untuk meninggalkan jejak yang kuat dan abadi. Jejak kaki, dalam bahasa militer, biasanya mengacu pada kehadiran pasukan AS,ungkap Trump.

Senada dengan Trump, Menteri Pertahanan (Menhan) Amerika Serikat (AS), Jim Mattis mengatakan AS “mungkin menyesal” bila tidak mempertahankan pasukan di Suriah guna memastikan bahwa militan ISIS tidak muncul kembali. Pernyataan tersebut merupakan tanda terbaru bahwa penarikan total pasukan AS tidak mungkin terjadi.

Menhan Mattis tidak memberikan indikasi yang jelas tentang berapa lama pasukan AS akan tetap berada di Suriah. Ia juga tidak mengisyaratkan adanya peningkatan pasukan di masa depan. Namun Mattis hanya menekankan misi yang tengah berlangsung untuk melatih pasukan lokal guna memerangi ISIS.

Dikutip dari reuters, Jumat (27/4/2018) pada sidang Komite Bersenjata Senat, Mattis mengatakan “Kami harus menciptakan kekuatan lokal yang dapat menjaga tekanan pada setiap upaya ISIS untuk mencoba (muncul kembali). Saat ditanya apakah akan berisiko memiliki mitra lokal tanpa pasukan AS, Mattis menjawab “Saya yakin bahwa  kami mungkin akan menyesalinya.

Kami belajar bahwa pasukan Irak tidak mampu memberikan keamanan di dalam negeri dan memberi musuh kesempatan untuk bangkit kembali, di sanalah benar-benar ISIS memiliki ruang untuk tumbuh,” kata Jenderal Marinir AS Joseph Dunford, Kepala Staf Gabungan, pada sidang senat tersebut.

Pentagon dan Departemen Luar Negeri telah menyatakan bahwa upaya jangka panjang AS akan diperlukan untuk memastikan kekalahan yang abadi dari ISIS. Kelompok ISIS telah merebut sebagian besar wilayah Suriah dan Irak. Akan tetapi secara bertahap ISIS kehilangan wilayahnya sejak AS dan sekutunya memulai serangan militer pada tahun 2014.

Saat pemerintahan Presiden Barack Obama menarik pasukan AS dari Irak pada 2011 ia mendapat kecaman dari Partai Republik. Para kritikus dari partai Republik menyatakan akibat penarikan pasukan AS, pasukan Irak mulai terurai yang akhirnya ambruk menghadapi kemajuan ISIS ke negara itu pada tahun 2014

Serangan udara AS, pasukan dan milisi Suriah yang didukung AS telah memberikan pukulan berat kepada ISIS di Suria. Tetapi kelompok itu masih menguasai sejumlah kantong wilayah. Kelompok ISIS secara luas diperkirakan akan kembali ke taktik gerilya jika sisa-sisa terakhir dari “khilafah” tidak ditangkap.

Mattis menyatakan ia mengharapkan adanya upaya “re-energi” terhadap militan ISIS di Suriah timur dalam beberapa hari mendatang.