Mengulik Pertalian Arab Saudi Dan Iran Damai Tapi Penuh Curiga

Presiden IranHassan Rouhani berjabat tangan dengan Emir Kuwait Sheikh Sabah Al Ahmad Sabah. Foto The Time of Israel
Presiden IranHassan Rouhani berjabat tangan dengan Emir Kuwait Sheikh Sabah Al Ahmad Sabah. Foto The Time of Israel

Berlin,Sayangi.com- Hubungan Iran dan Arab Saudi tumbuh sejak kekuasaan Syah Reza Pahlevi dan Raja Khalid. Kedua negara sebelumnya sering direcoki rasa saling curiga, antara lain karena tindakan Riyadh menutup tempat-tempat ziarah kaum Syiah di Mekkah dan Madinah. Perseteruan yang awalnya berbasis agama itu berubah menjadi politis seiring dengan eskalasi konflik di Timur Tengah dan Revolusi Islam 1979.

Raja Khalid awalnya melayangkan ucapan selamat kepada Ayatollah Khomeini atas keberhasilan Revolusi Islam 1979. Tapi hubungan kedua negara memburuk menyusul perang Iran-Irak dan kisruh Haji 1987. Puncaknya Riyadh memutuskan hubungan 1987 ketika Khomeini mengecam penguasa Arab Saudi sebagai “kaum Wahabi yang tidak berperikemanusiaan ibarat belati yang menusuk jantung kaum Muslim dari belakang.

“Saat berkobar perang Iran-Irak, Arab Saudi sejak dini telah menyatakan dukungan terhadap rejim Saddam Hussein di Baghdad. Riyadh bahkan memberikan dana sumbangan sebesar 25 milyar US Dollar. Riyard juga mendesak negara-negara teluk lain menyumbangkan dana perang buat Irak. Untuk menutupi biaya tersebut, Arab Saudi menggenjot produksi minyak mentah, yang kemudian mengakibatkan runtuhnya harga minyak dunia.

Dilansir dari dw.com Senin (30/4/2018) Mengikuti ajakan Khomeini, jemaah Iran setiap tahun berdemonstrasi di Mekkah dan Madinah menentang Israel. Tradisi yang digelar sejak 1981 itu tidak pernah bermasalah, kecuali 1987 ketika polisi memblokade jalan menuju Masjidil Haram. Akibatnya bentrokan tak terelakkan. 402 tewas dan 649 luka-luka.

Setelah kedutaan Arab Saudi di Teheran diserbu massa, Riyadh memutuskan hubungan diplomatik dengan Iran. Arab Saudi resah terhadap kemampuan militer Iran menyusul munculnya laporan intelijen yang mengungkap ambisi nuklir Teheran. Sejak saat itu Iran dikucilkan. Namun hingga tercapai kesepakatan nuklir di Vienna tahun 2015, sikap Arab Saudi tidak berubah. Riyadh menyebut kesepakatan tersebut “sangat berbahaya,” dan mengatakan masa depan kawasan akan lebih cerah jika pengaruh Iran dibatasi sebisanya

Hubungan Iran dan Arab Saudi kembali menegang setelah kelompok Syiah Zaidiyah di Yaman mengobarkan pemberontakan. Riyadh menuding Teheran mengompori perang bersaudara dan mencampuri urusan dalam negeri Yaman dengan memasok senjata. Iran sebaliknya menuding Arab Saudi menghkhianati perannya sebagai mediator konflik dengan membombardir minoritas Houthi di utara Yaman.

Dukungan Iran atas rejim Bashar Assad di Suriah sejak lama dianggap duri dalam daging oleh Arab Saudi. Sebab itu Riyadh sejak 2011 aktif memasok senjata buat oposisi Sunni di Suriah. Ironisnya Arab Saudi yang pertama mengecam Assad lantaran “tindakan represif pemerintahannya terhadap demonstrasi anti pemerintah,” ujar Raja Abdullah saat itu.

Bencana memayungi ibadah Haji 2015 ketika lebih dari 400 jemaah Iran meninggal dunia di terowongan Mina akibat panik massa. Iran menuding pemerintah Arab Saudi ikut bertanggungjawab. Riyadh sebaliknya menyelipkan isu bahwa tragedi itu disebabkan jemaah haji Iran yang tak mau diatur. Kisruh memuncak saat pangeran Arab Saudi, Khalid bin Abdullah, mendesak agar Riyadh melarang masuk jemaah haji Iran.

Terbaru pada November 2017 Perdana Menteri Libanon Saad Hariri mengumumkan pengunduran diri dari Riyadh, Arab Saudi, dan menyalahkan Iran terkait kebuntuan politik di Beirut. Langkah itu diyakini bagian dari manuver Arab Saudi untuk memprovokasi perang antara Iran dan Hizbullah dengan Israel. Saudi dan Iran berebut pengaruh di Libanon pasca penarikan mundur pasukan Suriah 2005 silam.