Kanselir Jerman dan Presiden Rusia Bahas Soal Iran dan Suriah

Angela Merkel dan Putin Bahas Suriah. Foto Rusia Beyond
Angela Merkel dan Putin Bahas Suriah. Foto Rusia Beyond

Moskow,Sayangi.com- Hari Jumat (18/5) Presiden Rusia Vladimir Putin dan Perdana Menteri Dmitri Medvedev menyambut Kanselir Jerman Angela Merkel di Sochi dengan membawa bunga putih.

Merkel menyalami Putin, kemudian keduanya dalam bahasa Jerman dan mengatakan “Guten Tag”, yang artinya “selamat siang”. Putin yang lama bekerja sebagai agen dinas rahasia KGB di Berlin Timurfasih berbahasa Jerman. Sedangkan Merkel yang besar di bekas Jerman Timur juga lancar berbahasa Rusia.

Dilansir dari dw.com, Sabtu (19/5/2018)  pertemuan di Sochi adalah kunjungan pertama Angela Merkel ke Rusia pasca terpilih kembali menjadi Kanselir Jerman akhir tahun lalu. Pertemuan kedua pemimpin berlangsung pada masa-masa diplomasi rumit, terutama mengenai konflik di Suriah dan kelanjutan Perjanjian Atom dengan Iran.

Rusia selama ini menjadi penyokong utama rejim di Suriah dalam perang melawan pemberontak. Rusia terlibat langsung dengan pengiriman pasukan dan sistem persenjataan. Kremlin juga beberapa kali memblokade resolusi PBB terhadap Suriah, terutama setelah tuduhan penggunaan senjata kimia oleh rejim Bashar al Assad.

Namun dalam sengketa perjanjian Atom dengan Iran, Rusia akan mengikuti negara-negara Eropa untuk mempertahankan kesepakatan itu. Putin sepertinya memposisikan bertolak belakang dengan posisi Presiden AS Donald Trump.

Kesepakatan Atom dengan Iran dari tahun 2015 ditandatangani oleh Amerika Serikat, Uni Eropa, Rusia dan Cina. Kesepakatan itu bertujuan menghentikan ambisi Iran membuat senajta nuklir. Namun Presiden Donald Trump baru-baru ini mengumumkan, AS menarik diri dari kesepakatan itu karena menganggap perjanjian itu tidak efektif.

Selain masalah Suriah dan Iran, Angela Merkel juga mengangkat masalah konflik bersenjata di Ukraina. Hngga kini persoalan Ukraina masih terus berlangsung, namun lepas dari perhatian dunia.

Saat kunjungan Merkel ini, Jerman dan Rusia juga membicarakan soal proyek pembangunan pipa miyak dan gas Nord Stream 2. Proyek ini akan memungkinkan pengriman gas secara langsung dari Rusia ke Jerman. Selama ini, gas dari Rusia ke Jerman harus disalurkan melalui Ukraina.

Amerika Serikat dan beberapa negara di Eropa timur menolak proyek Nord Stream 2 karena khawatir pipa gas ini akan merugikan bisnisnya. Amerika Serikat sendiri merupakan negara penghasil gas dan ingin menjual gasnya ke Eropa dan mematahkan dominasi Rusia. Bagi Ukraina, pembangunan Nord Stream 2 akan merupakan kerugian bisnis yang besar, karena selama ini Kiev mendapat penghasilan besar dari transfer gas Rusia ke Eropa barat melalui jariongan pipa gasnya

Kalangan diplomat mengatakan, Rusia kemungkinan besar siap melakukan kompromi, jika proyek Nord Stream 2 dapat dirampungkan segera. Sebagai imbalan, Rusia misalnya bisa mengusulkan beberapa kompromi untuk meredakan ketegangan konflik di Ukraina. Jerman sebelumnya mengusulkan agar PBB mengirim pasukan perdamaian untuk mengawasi pemilu di Ukraina tahun depan. Rusia selama ini menolak usulan tersebut di Dewan Keamanan PBB.