Radikalisme Berawal dari Cara Pandang Tak Menghargai Perbedaan

Ilustrasi

Jakarta, Sayangi.com – Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) mengaku miris dan prihatin atas peristiwa terorisme berupa pengeboman di beberapa wilayah yang terjadi sepekan terakhir. Paslanya, anak-anak dilibatkan dalam aksi para teroris tersebut.

“Anak-anak sudah menjadi target indoktrinasi radikalisme yang berujung pada perilaku terorisme. Tentu fenomena ini sungguh di luar nalar dan melukai perasaan kita sebagai pendidik,” kata Sekreraris Jenderal FSGI Heru Purnomo dalam keterangan, Senin (21/5).

Menurutnya, kekerasan dalam bentuk apapun semestinya tak lagi terjadi di masyarakat, apalagi di dunia pendidikan.

“Ideologi radikalisme, yang berujung dengan aksi kekerasan, berawal dari cara pandang yang tidak menghargai perbedaan. Merasa bahwa pendapatnya, diri atau kelompoknya yang paling benar dan anti terhadap pluralitas,” ungkapnya.

Menurut Heru, salah satu penyebabnya ialah pembelajaran di kelas yang tidak terbuka terhadap pergulatan pendapat dan cara pandang yang berbeda.

Bahkan, Heru menilai, para siswa dan guru terjebak pada “intoleransi pasif”, yaitu perasaan dan sikap tidak menghargai akan perbedaan (suku, agama, ras, kelas sosial, pandangan kegamaan dan pandangan politik), meskipun belum berujung tindakan kekerasan.

“Model intoleransi pasif inilah yang mulai muncul di dunia pendidikan di Indonesia,” tandasnya.