Alasan Polri Pecat Sofyan Tsauri Karena Desersi, Poligami dan Keterlibatan Teror

Kadiv Humas Polri Irjen Pol. Setyo Wasisto/foto: tri setyo

Jakarta, Sayangi.com – Kadiv Humas Polri Irjen Pol Setyo Wasisto menjelaskan tentang sosok Sofyan Tsauri. Sofyan merupakan mantan anggota Polri, yang sempat terlibat dalam jaringan teroris Al Qaeda.

“Masuk menjadi anggota Polri setelah lulus di SPN (Sekolah Polisi Negara) Lido, Jawa Barat tahun 1998. Ia pernah bertugas di Polres Depok, di Sabhara dan Bimas,” ujar Setyo di Mabes Polri, Senin (21/5).

Setyo menegaskan, Sofyan tidak pernah bertugas di Brimob, seperti yang selama ini disebut. Sofyan pernah mendapat penugasan Sabhara ke Aceh, dan di Aceh lah Sofyan terpapar pemikiran yang diusung teroris.

“Yang bersangkutan terpapar dengan pemikiran-pemikiran Aman Abdurrahman, dalam jaringan teroris pada tahun 2002. Saudara Sofyan termasuk dalam jaringan Al Qaeda Asia Tenggara dengan nama Abu Ayas, yang berperan sebagai pemasok senjata teroris di Aceh,” paparnya.

Ketertarikan Sofyan dengan pemikiran Aman Abdurrahman terus berlanjut, hingga tahun 2008 ia tidak lagi melaksanakan dinas di kepolisian. Tidak lama berselang, akhirnya Polri memecat Sofyan dengan tidak hormat.

“Pada 2009 yang bersangkutan di PTDH (Pemberhentian Dengan Tidak Hormat) dengan alasan desersi, poligami dan adanya keterlibatan terorisme,” jelasnya.

Pada tahun 2010, kata Setyo, Sofyan diamankan karena dugaan terorisme dan kemudian divonis 10 tahun penjara. Pada tahun 2015 Sofyan akhirnya keluar dari LP Cipinang, setelah mendapat sejumlah remisi.

“Dalam penjara sempat membuat halaqoh (pengajian), untuk menyebarkan pengaruhnya di dalam penjara,” tuturnya.

Seperti diketahui, pasca aksi serangan teror di sejumlah tempat, Sofyan Tsauri disebut-sebut sebagai agen intelijen yang disusupkan ke dalam gerakan Islam. Sofyan sendiri telah membantah tudingan ia adalah anggota intelijen.

Ia juga membantah bahwa ia masuk gerakan Islam untuk dapat memudahkannya mengkriminalisasi beberapa ulama, seperti Abu Bakar Ba’asyir.