Tahu Akan Dihabisi, Jurnalis Rusia Palsukan Kematiannya

Foto Best World News
Foto Best World News

Kiev,Sayangi.com- Seorang wartawan Rusia, yang dikenal sebagai pengritik Moskow dan disebut-sebut dibunuh di rumahnya ternyata hoax. Wartawan asal Rusia ini ternyata masih menghirup udara segar.

Setelah dikabarkan tewas dibunuh, Arkady Babchenko,yang sekarang tinggal di Kiev, Ukraina telah muncul di televisi dengan didampingi aparat keamanan serta intelijen Ukraina.

Babchenko mengungkapkan dirinya sengaja berpura-pura mati sebagai bagian dari operasi khusus intelijen Ukraina untuk mengelabui para pengejarnya. Para penguntitnya diklaim dibayar oleh Pemerintah Rusia.

Dilansir dari AFP Kamis (31/5/2018) sembari beberapa kali menahan tangis saat presscon Babchenko mengucapakan ” Saya ingin meminta maaf kepada Anda semua atas semua ini. Saya minta maaf, tapi tidak ada cara lain untuk melakukannya. Secara terpisah, saya ingin minta maaf kepada istri saya karena harus melalui masa yang sulit ini,” ujarnya.

Lembaga keamanan Ukraina, SBU, mengklaim menerima informasi mengenai rencana pembunuhan terhadap 30 orang di negara itu, termasuk Babchenko. Namun, pihak SBU menyatakan rencana tersebut telah digagalkan.

Menurut SBU, seorang warga Ukraina sudah ditahan setelah dia direkrut Rusia untuk mencari pembunuh bayaran untuk menghilangkan Babchenko. Dia dibayar US$40.000 untuk menjalankan rencana ini, US$30.000 untuk mencari si pembunuh, dan US$10.000 sebagai bayaran karena telah menjadi perantara.Meski berita Babchenko ternyata tidak terbunuh menimbulkan kelegaan, tapi sejumlah pihak menilai langkah itu dapat merugikan.

Ditempat yang sama Kepala SBU Vasyl Hrytsak menyatakan Kami tidak hanya berhasil mematahkan provokasi ini, tapi juga mendokumentasikan persiapan kejahatan memalukan yang dilakukan oleh lembaga intelijen Rusia.

Jaksa Agung Ukraina Yuriy Lutsenko menerangkan pemalsuan kematian Babchenko diperlukan agar para pelaku percaya misi mereka telah tercapai. Meski berita ini menimbulkan kelegaan, tapi sejumlah pihak menilai langkah itu dapat merugikan.

Sekretaris Jenderal Reporters Without Borders Christophe Deloire, dalam akun media sosialnya menuliskan “Sangat berbahaya bagi suatu negara untuk bermain-main dengan fakta terutama di balik dukungan para jurnalis”.