Polemik Yahya Staquf Diundang Israel, PBNU Tegaskan Tak Ada Kerja Sama

Yahya Cholil Staquf. (Istimewa)

Jakarta, Sayangi.com – Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf mendapat undangan untuk menjadi pembicara di Israel. Kabar ini memicu polemik.

Banyak orang yang menyayangkan hal tersebut. Pasalnya, hingga saat ini Palestina masih menderita akibat penjajahan Israel.

Menanggapi hal itu, Ketua PBNU Robikin Emhas menegaskan, tidak ada kerja sama baik berupa program maupun kelembagaan antara NU dengan Israel.

“Kehadiran Gus Yahya Staquf adalah selaku pribadi, bukan dalam kapasitas sebagai Katib Aam PBNU, apalagi mewakili PBNU,” tegas Robikin dalam keterangan persnya, Minggu (10/6)

Robikin merasa yakin, kehadiran Yahya Staquf adalah dalam rangka memberi dukungan dan menegaskan kepada dunia, khususnya Israel bahwa Palestina adalah negara merdeka, bukan sebaliknya.

“Setiap insan yang mencintai perdamaian mendambakan penyesesaian menyeluruh dan tuntas atas konflik Israel-Palestina,” ujarnya.

Menurutnya, konflik Israel-Palestina tidak disebabkan oleh faktor tunggal. Karenanya, diperlukan semacam gagasan out of the box yang memberi harapan perdamaian bagi seluruh pihak secara adil.

“Boleh jadi Gus Yahya Staquf memenuhi undangan dimaksud untuk menawarkan gagasan yang memberi harapan bagi terwujudkan perdamaian di Palestina dan dunia pada umumnya,” katanya.

Untuk diketahui, undangan Yahya sebagai pembicara tersebar di media sosial setelah diunggah jurnalis Israel, Simon Aran di akun Twitternya, @simonarann. Warganet ramai menyoroti kehadiran Yahya karena dinilai akan mencederai dukungan umat Islam Indonesia terhadap Palestina.

Simon dalam cuitannya menulis, undangan itu untuk mempromosikan dialog antara Islam, Yahudi, dan Kristen. “Kyai Yahya Cholil akan memberikan ceramah itu di Yerusalem,” tulis Simon.