Petani Prancis Unjuk Rasa Perihal Minyak Sawit

Petani Perancis saat berdemonstrasi menentang impor bahan pangan. Foto AFP
Petani Perancis saat berdemonstrasi menentang impor bahan pangan. Foto AFP

Paris,Sayangi.com- Ratusan petani rapa di Perancis memblokir instalasi penyulingan biodiesel milik Total karena menggunakan minyak sawit. Konflik tersebut semakin menyudutkan posisi Uni Eropa terkait komoditas ekspor terbesar Indonesia itu

Depot bahan bakar di Vatry yang terletak di timur laut Perancis menjadi yang pertama diblokir. Sekitar 100 petani membangun barikade dengan traktor dan tumpukan batu menuju pintu masuk depot, Minggu (10/6). Setidaknya 13 depot dan instalasi penyulingan bahan bakar milik perusahaan minyak Total menjadi sasaran amukan petani rapa Perancis.

Pangkal persoalan adalah kebijakan pemerintah Perancis mengizinkan Total menggunakan minyak sawit sebagai bahan campuran untuk memproduksi bahan bakar biodi instalasi penyulingan minyak di La Mede, tidak jauh dari Marseilles.

Kebijakan tersebut menyulut konflik dengan para petani rapa yang selama ini menjual minyak nabati untuk bahan bakar bio dan aktivis lingkungan yang memrotes deforestasi di Asia Tenggara.

Penggagas aksi blokade mengklaim para petani bakal bertahan selama tiga hari sampai pemerintah mengakhiri penggunaan minyak sawit di La Mede. “Sasaran kami adalah pemerintah,” dan keputusan Total terkait minyak sawit sudah “keterlaluan,” kata Christiane Lambert, Ketua Serikat Petani Perancis, FNSEA.

Petani Perancis merasa dirugikan karena minyak sawit saat ini dibanderol lebih murah ketimbang minyak rapa. Selain itu nilai pajak yang tinggi dan ketatnya regulasi lingkungan membuat para petani kesulitan bersaing dengan produsen minyak sawit.

Total berdalih volume minyak sawit yang digunakan hanya berkisar tidak lebih dari 50% dan hanya menampung produk yang telah mendapat sertifikat RSPO.

Total yang telah menginvestasikan 275 juta Euro buat merombak instalasi penyulingan di La Mede agar bisa mengolah minyak sawit, berjanji akan membeli lebih banyak biji rapa dari petani lokal. Instalasi di La Mede ditaksir bisa memproduksi hingga 500.000 ton bahan bakar bio per tahun.

Menurut organisasi lingkungan Rainforest Rescue, penyulingan di La Mede membutuhkan 650.000 ton minyak nabati, di antaranya 100.000 minyak makan bekas pakai, 100.000 ton minyak nabati serupa sawit dan 450.000 ton minyak sawit. Jumlah tersebut ditaksir dua kali lipat ketimbang jumlah minyak sawit yang saat ini diimpor oleh Perancis.

Dilansir dari dw.com Selasa (12/6/2018) Ketegangan di Perancis menambah panjang daftar kontroversi seputar penggunaan minyak sawit sebagai campuran bahan bakar bio di Eropa. Awal tahun silam Parlemen Eropa memutuskan akan melarang penggunaan minyak sawit untuk biodiesel pada 2020. Keputusan tersebut masih harus menunggu dukungan dari Komisi dan Dewan Eropa sebelum diberlakukan.

Pemerintah Indonesia sejauh ini aktif melobi negara-negara anggota Uni Eropa untuk menolak larangan sawit tersebut. Jakarta bahkan mengancam bakal mengambil tindakan balasan yang berpotensi meluas menjadi perang dagang antara UE dan Indonesia. Pemerintah Indonesia antara lain berniat membatalkan pesanan pesawat Airbus jika Dewan Eropa mengamini larangan eksport sawit Indonesia.