Tak Terima Kiai Dihina Fadli Zon, Wasekjen Gerindra Mundur dari Partai

Mohammad Nuruzzaman memperlihatkan surat pengunduran dirinya dari Partai Gerindra. (Twitter)

Jakarta, Sayangi.com – Wakil Sekjen (Wasekjen) DPP Partai Gerindra Mohammad Nuruzzaman menyatakan mundur dari kepengurusan partai. Salah satu penyebab dirinya mundur adalah, dirinya kesal dengan Fadli Zon yang dianggap menghina KH Yahya Cholil Staquf saat memenuhi undangan ke Israel.

Nuruzzaman menyatakan, sebagai santri, penghinaan terhadap kiai sudah berkaitan dengan harga diri dan marwah. Ia mengaku sudah berkirim surat kepada Ketua Umum DPP Partai Gerindra Prabowo Subianto. Dalam surat kemunduran dirinya itu, dia juga mengutarakan unek-uneknya sejak menjadi kader Gerindra pada 2014.

“Partai Gerindra ternyata belok menjadi sebuah kendaraan kepentingan yang bukan lagi berkarakter pada kepedulian dan keberanian, tapi berubah menjadi mesin rapuh yang hanya mengejar kepentingan,” ujar Nuruzzaman dalam keterangan yang diterima sayangi.com Selasa (12/6) malam.

Menurutnya, manuver Gerindra saat ini dinilai terlalu patriotik dan lebih menjadi corong kebencian yang mengamplifikasi kepentingan politik praktis. Dia bahkan menyebut, nilai Indonesia Raya telah hilang di setiap kader partai.

“Makin parah lagi, pengurus Gerindra makin liar ikut menari pada isu SARA di kampanye Pilkada DKI di mana saya merasa sangat berat untuk melangkah berjuang karena isi perjuangan Gerindra hanya untuk kepentingan elitenya saja sambil terus menerus menyerang penguasa dengan tanpa data yang akurat,” ungkapnya.

Padahal, hal utama yang mendasarinya memilih Gerindra adalah semangat membangun negeri melalui politik yang lebih bersih yang pernah disampaikan Ketum Gerindra Prabowo Subianto.

“Pak Prabowo itu selalu berpidato bahwa kita ini bukan politisi, kita itu adalah pejuang, pejuang politik. Artinya ada semangat untuk memperbaiki, untuk melakukan perbaikan politik yang selama ini dianggap politik ini adalah kotor. Saya semangat dan saya sangat setuju apa yang dikatakan Pak Prabowo,” Kata Nuruzzaman.

Nuruzzaman mengaku sudah berniat untuk mundur dari Gerindra pada Desember 2017. Ia menganggap isu SARA sudah melampaui batas, ditambah kontribusi elite Gerindra yang haus kekuasaan tanpa peduli pada rakyat.

“Hari ini, 12 Juni 2018, saya marah. Kemarahan saya memuncak karena hinaan saudara Fadli Zon kepada kiai saya, KH Yahya Cholil Staquf terkait acara di Israel yang diramaikan dan dibelokkan menjadi hal politis terkait isu ganti Presiden,” tegasnya.

Dia menegaskan, bagi santri, penghinaan pada kiai adalah tentang harga diri dan marwah. Keputusan mengundurkan diri Nuruzzaman dilakukan lantaran elite Partai Gerindra yang dinilai hanya memikirkan kekuasaan.

“Saya Mohammad Nuruzzaman, kader Gerindra, hari ini mundur dari Partai Gerindra dan saya pastikan, saya akan berjuang untuk melawan Gerindra dan elite busuknya sampai kapan pun,” tegasnya.