Trump Potong Tradisi Akhir Ramadhan di Gedung Putih

Suasana buka puasa bareng di Gedung Putih pada era pemerintahan Obama. Foto Islam.ru
Suasana buka puasa bareng di Gedung Putih pada era pemerintahan Obama. Foto Islam.ru

Washington,Sayangi.com- Presiden AS Donald Trump putuskan tradisi dua dasawarsa akhir pekan ini dengan tidak menjadi tuan rumah makan malam di Gedung Putih. Makan malam di akhir bulan suci Ramadhan menandai perayaan Idul Fitri.

Keputusan tersebut membuat makan malam di hari terakhir menjalankan puasa tidak lagi diadakan di Gedung Putih. Sejak 1999 saat Bill Clinton menjadi presiden, ia menjadikannya sebagai tradisi tahunan.

Sebaliknya, Trump menandai hari raya Idul Fitri hanya dengan sebuah pernyataan dan mengirimkan “salam hangat” kepada umat Islam yang merayakannya di seluruh dunia.

Trump memberi pernyataan “Muslim di Amerika Serikat bersama-sama dengan orang-orang di seluruh dunia selama bulan suci Ramadhan telah fokus pada tindakan iman dan amal.

“Selama liburan ini, kami diingatkan akan pentingnya belas kasih, pengampunan, dan niat baik. Dengan umat Islam di seluruh dunia, Amerika Serikat memperbarui komitmen kami untuk menghormati nilai-nilai ini. Selamat Idul Fitri,bunyi pernyataan resmi Trump.

Libur Idul Fitri selama tiga hari dimulai pada hari Jumat dan menandai akhir bulan puasa, dimana dari matahari terbit hingga matahari terbenam melakukan puasa.

Kabar dari keputusan Trump untuk tidak menjadi tuan rumah makan malam – dimana para pemimpin Muslim AS, diplomat dan legislator biasanya hadir mendapat banyak kritikan.

Imam Talib Shareef dari Nation’s Mosque di Washington, D.C., kepada Newsweek menyebutkan ini mengecewakan karena itu sudah menjadi tradisi yang baik,.“Dengan menghentikannya (tradisi itu) berarti trump tidak mengirim pesan yang baik.

Anda mendapatkan kesempatan untuk bermain golf dan berbagai hal lainnya. Bagaimana Anda tidak punya waktu untuk masyarakat Anda yang membutuhkan perhatian? Pesan yang dikirimkannya (Trump) adalah bahwa kami tidak begitu penting,” katanya.

Trump telah berulang kali mendapat kecaman karena apa yang dianggap sebagai retorika anti-Muslim, terutama selama kampanye kepresidenannya, ketika ia meminta pengawasan terhadap masjid-masjid di AS serta larangan terhadap Muslim memasuki negara itu.

Selanjutnya, awal tahun ini ia mengeluarkan larangan kontroversial bagi para pelancong dari beberapa negara yang didominasi Muslim, termasuk Iran, Libya, Suriah dan Yaman, demi melindungi AS dari “terorisme”. Namun larangan itu dibatalkan oleh pengadilan AS karena dinilai diskriminatif.

Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson juga mengeluarkan ucapan pada Idul Fitri tahun ini. “Liburan ini menandai puncak Ramadhan, sebulan di mana banyak pengalaman berarti dan menggali inspirasi melalui puasa, doa, dan amal. Hari ini menjadi kesempatan untuk merefleksikan komitmen bersama kami, untuk membangun komunitas yang damai dan makmur. Eid Mubarak.”

Tradisi jamuan Ramadhan di gedung putih dimulai pada tahun 1805.
Presiden AS Thomas Jefferson, yang merupakan pendukung kebebasan beragama, tercatat sebagai Presiden AS pertama yang menjadi tuan rumah makan malam berbuka puasa di Gedung Putih.

sumber:politico.com