Polisi Kembali Amankan Tiga Orang Admin Akun Pornografi Anak Lolycandy

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono. (Foto: Sayangi.com/Tri Setyo)

Jakarta, Sayangi.com – Subdit Cyber Crime Ditreskrimsus Polda Metro Jaya kembali menangkap tiga tersangka kasus prostitusi online anak di bawah umur melalui media sosial. Mereka berinisial WR (19), AD (33) dan IW (26).

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono mengatakan, dari para tersangka ini memiliki peran yang berbeda-beda. Mereka mayoritas menyebar konten pornografi melalui pesan whatsapp.

“Itu dari tiga tersangka ini kita kenakan Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) dan pornografi,” ujar Argo di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Senin (25/6).

Argo juga mengimbau agar masyarakat dapat menjaga keluarganya dari jaringan seperti lolycandy. Selain itu, kemajuan internet juga harus disikapi secara positif.

“Perkembangan internet ini harus digunakan dengan positif, jangan sampai dimanfaatkan secara negatif,” tuturnya.

Di tempat yang sama, Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Susanto menyampaikan apresiasi kepada Polda Metro Jaya karena dapat mengamankan tiga tersangka kasus lolycandy ini.

“KPAI intensif koordinator dengan Polda Metro Jaya karena pergerakan di grup bukan dari Indonesia saja, ada anak dari luar (yang jadi korban),” katanya.

Untuk anak Indonesia yang menjadi korban lolycandy ini, kata Susanto, akan ditelusuri darimana asalnya. Oleh karena itu, semua pihak harus berperan agar korban ini dapat perlindungan secara psikis.

“Literasi terhadap anak-anak itu diperlukan. Sekolah berperan penting dalam meliterasi anak-anak, mulai dari SD sampai SMA,” jelasnya.

Hal senada juga disampaikan Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Seto Mulyadi mengaku, dirinya prihatin dengan kasus lolycandy ini. Apalagi seorang tersangka berinisial WR ini masih berusia 19 tahun.

Menurut Seto, usia remaja merupakan usia paling aktif dalam mengakses internet dan sosial media. Oleh karena itu, disamping sekolah, orang tua dan keluarga juga harus melakukan pengawasan terhadap apa yang diakses oleh para remaja ini.

“Hal ini terjadi salah satunya karena kurangnya pengawasan dan kebersamaan keluarga. Mendidik anak itu perlu koordinasi lingkungan atau orang sekampung lah,” tuturnya.

Seperti diketahui, pada Maret 2017 silam, Cyber Crime Ditreskrimsus Polda Metro Jaya mengungkap akun official lolycandy, yang mendistribusikan konten pornografi anak secara online.

Dari kasus tersebut, polisi berhasil mengamankan W alias Snorlax (27), DS (24), DF (17), SHDT (16), AAJ (21) anggota 7479 anggota. Grup Facebook private yang dibuat sejak September 2016 lalu ini, pernah memiliki 7.479 anggota di dalamnya.